BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puisi sebagai salah satu jenis sastra yang merupakan pernyataan sastra. Segala unsur seni kesastraan mengental dalam puisi. Oleh karena itu puisi dari dahulu hingga sekarangpernyataan seni sastra yang paling baku. Membaca merupakan sebuah kenikmatan yang khusus, bahkan merupakan puncak kenikmatan seni sastra. Oleh karena itu sastra dari dahulu hingga sekarang puisi selalu diciptakan orang dan selalu dibaca, dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan seninya dan nilai kejiwaannya yang tinggi. Dari dahulu hingga sekarang, puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu kewaktu selalu meninggkat, maka corak sikap dan bentuk puisi-pun selalu berubah mengikuti perkambangan selera, konsep estetik yang selalu berubah, dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat.
Dalam penelitian ini saya akan menganalisis lebih spesifik atau mendetail lagi mengenai puisi yang berjudul DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR. Dimana dalam puisi ini memiliki sebuah pesan yang akan disampaikan oleh seorang penyair kepada pembacanya atau pendengarnya dalam sebuah karya sastranya dalam bentuk puisi. Tema, amanat, nada dan suasana, gaya kata (diksi), gaya kalimat, pencitraan, perasaan dan pemaknaan, akan dikaji secara lebih lanjut dalam penelitian ini.
B. Rumusan Masalah
Agar permasalahan yang akan dibahas menjadi terarah dan menuju tujuan yang diinginkan diperlukan adanya perumusan masalah. Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apa tema yang terkandung dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR?
2. Bagaimana gaya bahasa dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR?
3. Suasana apa yang ada dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR?
4. Apakah makna yang terdapat dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR?
C. Tujuan
Suatu penelitian harus mempunyai tujuan agar lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka tujuan dari penelitian ini.
1. Mendeskripsikan dan menganalisis tema yang terkandung dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
2. Mendeskripsikan gaya bahasa dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
3. Menganalisis suasana yang ada dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
4. Memaparkan makna yang terdapat dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
D. Manfaat
Suatu penelitian pasti mempunyai tujuan agar lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, dari tukuan yang telah dicapi akan mencapatkan beberapa manfaat. Maka dapat disebutkan manfaat dari penelitian ini.
1. Mengetahui tema yang terkandung dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
2. Mengetahui bagaimana gaya bahasa dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
3. Mengetahui suasana apa yang ada dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
4. Mengetahui makna yang terdapat dalam puisi DO’A KARYA CHAIRIL ANWAR.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Stilistika
Stilistika menurut Sudjima (dalam Satoto, 1995: 6) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Sangat menarik bahwa dalam perkembangan linguistik terapan bahwa munculnya minat bahkan kesungguhan hati para pakar linguis untuk menerapkan teori dan pendekatan linguistik dalam rangka pengkajian sastra (Satoto, 1995:6). Begitu eratnya pengkajian bahasa dan sastra, sehingga bidang studi stilistika menjadi incaran yang menggairahkan bagi para ahli bahasa dan aahli sastra. Stilistika adalah studi yang menjembatani pengkajian bahasa dan sastra dengan mengkaji apa sebenarnya hubungan antara bahasa dan sastra (Satoto, 1995:6).
Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genrenya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu.
Menurut Aminuddin (2008) gaya merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.
Stilistika dalam kajian karya sastra mamiliki hubungan yang sangat erat karena dalam sebuah karya sastra terdapat style sedangkan stilistika merupakan cabang ilmu sastra yang mengkaji tantang stail atau gaya.
Pada mulanya stilistika oleh penemunya, Carles Bally (dalam Hand Out Ali Imron, 2008:15) tidak dimasukkan sebagai studi gaya sastra, melainkan untuk studi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi tujuan hidup. Menurut Bally stilistika adalah studi tentang efek-efek ekspresif dan mekanisme dalam semua bahasa-bahasa.Baginya stilistika merupakan sumber-sumber ekspresif bahasa dan mengeluarkanya dari dalamnya studi bahasa sastra yang diorganisasikan untuk tujuan estetik.
Tetapi Cressot (dalam Hand Out Ali Imron,2008:15) menyatakan bahwa kesusastraan adalah bidang stilistika yang utama karena dalam bidang kesusastraan pilihan gaya lebih manasuka dan lebih sadar.
KajianStilistikamerupakanbentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif.Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sstem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian. Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya adalah kontras system bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren : 1990 : 221).
Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati,memahami,dan menghayati system tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingindiungkapkan oleh pengarang, baik dalam karya sastra yang berbentuk puisi, novel, cerpen, drama dan lain-lain.
B. Style ‘Gaya Bahasa’
Style dalam tulisan ini sesuai dengan objek kajiannya, sastra yang menggunakan bahasa sebagi mediumnya, diarikan sebagai ‘Gaya Bahasa’. Gaya bahasa menurut Abram (dalam Al Imron, 2009: 142) adalah car pemakaian bahasa dalam karangan, atau bagaimana seorang pengarang mengunkapkan sesuatu yang akan dikemukakan. Sedangkan menurut Leech & Short (dalam Al Imron, 2009: 142), Style menyarankan pada pemakaian bahasa dalm konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk kajian tertentu.
Style ‘Gaya Bahasa’ merupakan sistem tanda tingkat kedua dalam konvensi sastra. Makna tanda tersebut ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian untuk dapat memahami makna puisi secara total kita dapat mengkaji hubungan stilistika itu sebagai salah satu unsur yang membangun puisi tersebut dengan unsur-unsur yang lain secara keseluruhan (Ali Imron, 2009: 142).
C. Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter menurut Tarigan (dalam Ahmad: 2008) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa.
Herman J. Waluyo (dalam Kasandika: 2008) mendefinisikan bahwa Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Membaca puisi pada dasarnya merupakan usaha melakukan kontak lahir batin
dengan puisi tersebut. Pembaca puisi perlu bergulat dengan segala kemampuan, pikiran, pengalaman dan perasaan terhadap puisi yang dibaca agar dapat menangkap segala makna dalam puisi. Mengapa hal tersebut diperlukan? Karena banyak puisi yang bersifat "menyembunyikan makna" dibalik baris-baris kata dan bait.
Dari sudut pandang bahasa, secara konvensional bahasa memiliki konsep Dwi-Tunggal: bentuk dan arti. Kata tertentu memiliki arti tertentu secara harfiah. Namun kata-kata yang digunakan pada puisi mengandung arti "tambahan" dengan memanipulasi bahasa dan memanfaatkan potensi yang ada pada bahasa. Kata-kata didalam puisi dapat membawa arti yang "ambiguous" dan dapat terjadi multiinterpretasi pada puisi yang sama (puisi dapat diinterpretasikan lebih dari satumacam). Menganalisis puisi berarti berusaha mengambil atau menemukan arti biasa maupun arti "tambahan" yang dikandung puisi tersebut. Disamping memahami arti atau makna puisi, kegiatan analisis juga berusaha untuk melihat struktur/ unsur-unsur puisi.
D. Unsur-unsur Puisi
Unsur-unsur puisi menurut Praba (2003) adalah segala sesuatu yang berperan membentuk/ membangun puisi menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur puisi dapat terdiri dari: bunyi, imaji, kiasan, tipografi, diksi, baris, bait, manipulasi tatabahasa dan lain-lain
Pendekatan struktur puisi agar dapat memahami puisi dengan baik, kita dapat berpegang pada prinsip berikut: Makna unsur-unsur puisi membentuk makna keseluruhan puisi. Makna unsur-unsur puisi dicari dengan terlebih dahulu mengandaikan makna keseluruhan puisi. Keberadaan suatu unsur puisi ditentukan oleh adanya unsur lainnya. Oleh karena itu, seluruh unsur-unsur puisi tidak membentuk makna sendiri-sendiri secara lepas tetapi secara bersama membentuk makna keseluruhan puisi. Maka puisi dikatakan sebagai karya sastra yang "koheren" dimana setiap unsurnya saling terkait dan saling menentukan dalam membentuk makna keseluruhan puisi. Oleh karena itu, selalu baca puisi secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong (Praba: 2003).
Secara garis besar puisi memiliki struktur, baik struktur fisik maupun batin. struktur fisik dan struktur batin puisi sebagai berikut.
1. Menurut Pradopo (2007), Struktur fisik puisi meliputi:
1) Diksi
2) Pencitraan
3) Kata konkret
4) Majas
5) Bunyi yang menghasilkan rima dan ritma
2. Menurut Pradopo (2007), Struktur batin puisi meliputi:
1) Perasaan
2) Tema
3) Nada
4) Amanat
E. Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda. Semiotik mengacu pada dua istilah kunci, yaitu penanda atau ‘yang menandai’ (signifier) dan petanda atau ‘yang ditanda’ (signified). Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis, sedangkan petanda adalah konsep. Adapun hubungan antara imaji dan konsep itulah yang disebut tanda (Ali Imron, 2009: 146).
Peirce (dalam Ali Imron, 2009: 146) membedakan tiga kelompok tanda, yaitu: (1) Ikon (ikon) adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya, misalny kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya. (2) Indeks (index) adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya, misalnya asap merupakan tanda adanya api. (3) Simbol (syombol) adalah hubungan atara hal atau suatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat. Misalnya janur kuning merupakan tanda ada pernikahan sepasang manusia.
BAB III
METODE PENELITIAN
Karya sastra merupakan struktur tanda yang bermakna. Oleh karena itu, untuk mengkaji stilistika puisi diperlukan teori dan metode yang mampu mengungkapkan tanda-tanda tersebut. Dalam pengkajian ini, dilakukan pengakajian stilistika puisi “Doa” yang meliputi gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, citraan, perasaan, nada dan suasana, makana, dan amanat.setelah pengkajian stilistika dilanjutkan pemanfaatan teori Semiotik.
Objek penelitian ini adalah stilistika puisi “Doa” karya Chairil Anwar yang dikajia dengan teori semiotik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, mengingat objek penelitiannya, yakni stilistika bentuk kata verbal. Dalam bentik wacana yang terkandung dalam teks puisi “Doa”. Melalui metode ini, peneliti mengembangkan dan menetukan fokus tertentu, yakni pengkajian stilistika puisi tersebut. (Ali Imrin, 2009:147).
Miles dan Hiberman (dalam Ali Imron, 2009:147) data kualitatif merupakan sumber informasi yang bersumber pada teori, kaya akan deskripsi, dan kaya akan penjelasan proses yang menjadi dalam konteks. Data penelitian ini adalah unsur-unsur stilistika puisi “Doa” berupa data verbal terdiri atas gaya bunyi, kata, kalimat, citraan, perasaan, dan nada dan suasana. Adapun sumber datanya ada satu. Pertama sumber data primer yakni puisi “Doa” karya Chairil Anwar.
Sejalan dengan kajiannya, kajian ini dimulai dengan pedeskripsian berbagai fenomena kebahasaan sebagai wujud stilistika puisi “Doa” dengan mengungkapkan latar belakang, fungsi, dan tujuan pemanfaatan stilistika dalam puisi tersebut. Selanjutnya, analisis makna dilakukan dengan mengunakkan pembacaan model semiotik yang terdiri atas pembacaan heuristik dan hermenutik. Pembacaan heuristik adalh pembacaan yang menurut konvensi bahasa. Pembacaan Hermeneutik adalah pembacaan berulang-ulang dengan memberikan interpretasi terhadap sistem tanda semiotik.
A. Teknik Analisis Puisi
Analisis puisi dapat dilakukan dengan teknik "parafrase" yaitu usaha mengembalikan kata-kata yg hilang atau memperbaiki tata bahasa dalam rangka memudahkan pemahaman puisi. Hal ini amat bermanfaat terutama bagi puisi yang menggunakan sedikit kata-kata (Praba: 2003).
Praba (2003) ada dua metode teknik parafrase:
1. Mempertahankan susunan kata-kata dalam puisi tetapi menambahkan unsur/ kata dalam tanda kurung yang akan memudahkan usaha memahami puisi secara keseluruhan.
2. Mengubah puisi menjadi prosa dengan cara mengubah baris atau bait menjadi kalimat-kalimat dengan menambah/mengurangi/menukar kata-kata tertentu sehingga unsur-unsur asli puisi tidak kelihatan lagi, yang ada hanya suatu prosa dimana prosa tersebut telah menggambarkan makna secara keseluruhan puisi.
BAB IV
Hasil Analisis
A. Analisis Puisi " DOA"
Dalam penelitian akan menganalisis “Doa” yang akan dibagi beberapa tehap mulai dari gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, citraan, hingga sampai pada pemaknaan. Selain itu juga akan dianalisis dari segi tema, perasaan, nada dsn suasana, serta amanat.
Doa
Karya ChairilAnwar
Puisi Doa karya Chairil Anwa
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
1. Gaya Bunyi
Dalam puisi, bunyi berperan penting karena bunyi menimbulkan efek dan kesan tertentu. Bunyi dapat menekankan arti kata, mengintensifkan makna kata dan kalimat, bahkan dapat mendukung pencipta suasana tertentu dalam puisi. Gaya bunyi dalam puisi itu dapat dikemukakan sebagai berikut.
Puisi ini secara keseluruhan didominasi oleh adanya bunyi /u/.bunyi /u/ yang mendominasi keseluruhan puisi ini mempunyai fungsi menimbulkan suasana sedih, haru, pasrah, rela, sunyi, dan sepi. Bunyi /u/ terasa yang mewarnai keseluruhan puisi, sengaja dimanfaatkan oleh penyair untuk mencapai efek makna sekaligus juga untuk mencapai efek estetik.
Pengulangan rima (persamaan bunyi pada akhir kata) juga mendominasi keseluruhan puisi. Dalam hal ini terdapat pengulangan rima akhir. Pengulangan rima akhir pada keempat bait itu membentuk pola yang sama sehingga menimbulkan kedekatan, kekhusu’an, keakraban penyair sebagai makhluk dengan Tuhan.
Pengulangan rima akhiran pada baris pertama pada bait kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan kelima, didukung oleh kata dan kalimat yang sama.
Tuhan-Ku
Ada yang menarik lagi, meskipun dengan kata yang berbeda-beda, pada baris ketiga dalam bait kesatu, kedua, dan kelima terdapat pengulangan rima tengah dengah bunyi /i/.
Pada bait kesatu:
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Pada bait kesatu:
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Pada bait kesatu:
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
2. Gaya Kata (Diksi)
Untuk menghidupkan lukisan dan memberikan gambaran yang jelas sesuai dengan gagasan sesuai dengan gagasan yang ingin dikemukakan oleh penyair dalam puisi “Doa” banyak memanfaatkan kata konotatif disamping kata konkret. Kata konotatif mempunyai arti yang tidak langsung yang bersifat tambahan atau menimbulkan asosiasi tertentu. Kata konotatif sekaligus untik menciptakan bahasa kias. pemanfaatan kata konotatif ataupun bahasa kias sengaja dilakukan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung.
Dinyatakan Riffaterre (dalam Ali Imron, 2009: 152), bahwa pelukisan sesuatu untuk unkapan secara tidak langsung itu merupakan konvensi sastra, terlebih puisi. Ekspresi langsung dilakukan oleh penyair karena tiga hal yaitu: (1) penggantian atau pemindahan arti (displacing of meaning), (2) Penyimpangan arti (distrosing of meaning), penciptaan arti (creating of meaning).
Bait 1 dimanfaatkan bahasa kias berupa majas metafora untuk melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhan dalam berdoa, pada baris ketiga /Aku masih menyebut nama-mu/ “Aku” adalah wahana sedangkan “masih menyebut namamu” merupakan tenor.
Bait 2 majas hiperbola dimanfaatkan pada bait 2 dengan melukiskan sesuatu secara berlebihan. Hiperbola dimanfaatkan untuk menyangatkan arti guna menciptakan efek makna khusus. Yaitu melukiskan bahwa dalam suasana yang gelap dan tenang penyair berdoa memuji tuhannya dengan penuh keikhlasan supaya doanya dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa Yang dilukiskan dengan bentuk /Caya-Mu panas suci/ /Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/.
Bait 3 memanfaatkan majas hiperbola pada baris kedua /Aku hilang bentuk remuk/ yaitu melukiskan sesuatu yang berlebihan sehingga menimbulkan efek makna khusus.
Bait 4 memanfaatkan majas metafora yang melukiskan bahwasanya penyair rela melakukan apa saja untuk mendapakan ridho dari Yang Maha Kuasa. /Aku mengembara di negeri asing/ merupakan majas metafora, membandingkan sesuatau tanpa menggunakan perbandingan. “Aku” adalah wahana sedangkan “mengembara di negeri asing” adalah tenor.
Majas hiperbola juga dimanfaatkan dalam bait 4 untuk melukiskan sesuatu secara berlebihan. Dalam hal ini hiperbola menyatakan kedekatannya antara penyair dengan Tuhan, rela mengembara kesebuah negeri asing yang sangat jauh demi mendekatkan diri pada Tuhannya yang dilukiskan dengan /Aku mengembara di negeri asing/.
3. Gaya Kalimat
Kepadatan kalimat dan bentuk yang ekspresif sangat diperlukan dalam karya sastra khususnya puisi. Mengingat bahwa puisi hanya inti gagasan atau pengalaman batin yang dikemukakan. Hanya yang penting dan inti yang dikemukakan dalam puisi (Ali Imron, 2009:154).
Pada baris pertama bait 1, 2, 3, 4, 5, sebenarnya dapat disisipkan kata “Wahai” agar lebih jelas dan terfokus. Namun itu diimplisitkan agar lebih padat dan efektif.
/(Wahai) Tuhanku/
...........................
Baris kedua bait 1, 3, 4, dan baris ketiga bait 5, sebenarnya juga dapat disisipi dengan kalimat “dan semua umat-mu”, tetapi ini diimplisitkan supaya lebih padat dan efektif.
Bait 1
.............................................
Aku(dan semua umat-mu) masih menyebut nama-Mu
Bait 3
.................................................
Aku(dan semua umat-mu)hilang bentuk
Bait 4
................................................
Aku(dan semua umat-mu)mengembara di negeri asing
Bait 5
.................................................
Aku(dan semua umat-mu) tidak bisa berpaling
Pemadatan kalimat dengan mengimplisitkan bagian kalimat tertentu pada puisi tersebut selain kalimat menjadi ringkas dan efektif juga mampu menciptakan suasana tersendiri baik keakreban antara si penyair dengan Tuhannya.
4. Citraan
Pencitraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gamabaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu bagi para pembacanya. Cuddon (dalam Ali Imron, 2009: 158) menjelaskan bahwa citraan kata meliputi penggunaan bahassa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan pengalaman indera yang istimewa.
Di tangan sastrawan yang pandai, demikian Coombes (dalam Ali Imron, 2009: 158), imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahannya untuk mengintensifkan, menjernihkan, memperkaya, sebuah imaji yang berhasil membentuk pengalaman menulis terhadapa objek atau situasi yang dialaminya, memberi gambaran yang setepatnya, hidup, kuat, ekonomis, dan segera dapat dirasakan.
Dalam puisi “Doa” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Pada bait 1 penyair memanfaatkan citraanvisual dengan memanfaatkan bahasa kias berupa majas metafora untuk melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhan, sehingga timbul keakraban, kekhusukan ketika merenung menyebut nama Tuhannya.
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Bait 2 penyair mengguanakan citraan visual dengan majas hiperbola untuk melukiskan sesuatu secara berlebihan. Hiperbola dimanfaatkan untuk menyangatkan arti guna menciptakan efek makna khusus. Yaitu melukiskan kedekatana antara penyair dengan Tuhannya. Yang dilikiskan pada baris ketiga, disini penyair melebih-lebihkan kedekatanya, ketulusan, dan kepasrahannya kepada Tuhan /Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/. Disini kedekatan antara penyair dan Tuhan, didalam sebuah kesunyian ketika merenung berdoa, hanya cahaya lilin yang redup dalam kesunyian malam.
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Bait 3 menggunkan citraan vusual memanfaatkan majas hiperbola pada baris kedua /Aku hilang bentuk remuk/ yaitu melukiskan sesuatu yang berlebihan sehingga menimbulkan efek makna khusus. Disini dalam keheningan malam, berdoa menyebut nama Tuhannya dengan sepenuh hati hingga badannya bagaikan hilang dan remuk, rela badanya remuk tak tersisa demi Tuhannya.
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Bait 4 juga menggunakan pencitraan visual dengan memanfaatkan majas metafora yang melukiskan kedekatan antara penyair dengan Tuhannya /Aku mengembara di negeri asing/ merupakan majas metafora, membandingkan sesuatau tanpa menggunakan perbandingan. Membandingkan keseriusannya dan kehusukannya dalam berdoa, dengan pengembaraannya ke negeri asing.
Majas hiperbola juga dimanfaatkan dalam bait 4 untuk melukiskan sesuatu secara berlebihan. Dalam hal ini hiperbola menyatakan kedekatannya antara penyair dengan Tuhan, rela mengembara kesebuah negeri asing yang sangat jauh demi mendekatkan diri pada Tuhannya yang dilukiskan dengan /Aku mengembara di negeri asing/. Disisni keseriusan dalam berdoa dirbaratkan mengembara ke negeri asing. Dimanapun berada tetap ingat dan patuh dengan menyebut nama Tuhannya, karena kita hidup hanyalah sebagai sebuah pengembaraan.
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Pemanfaatan pencitraan dalam puisi tersebut mampu menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang diasakan oleh penyair, dengan menghayati pengalaman religi penyair.
5. Kajian Makna Stilistika Puisi “Doa”
Makna karya sastra merupakan formulasi gagasan-gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Mengacu pada teori semiotik, karya sastra merupakan sistem komunikasi tanda. Oleh karena itu, apa pun yang tercantum dalam karya sastra merupakan tanda yang mengandung makna yang implisit di balik ekspresi bahas yang eksplisit. Dalam konteks ini ahli semiotika Perce (dalam Ali Imron, 2009: 161) membedakan tiga kelompok tanda yaitu (1) ikon, (2) indeks, (3) simbol.
a. Penafsiran Judul
Puisi “Doa” mengungkapkan tentang tema ketuhanan. Seseorang seseorang merenung si dalam kesunyian, ia memohon, berharap dan melantunkan pukian kepada Tuhan.
b. Gambaran Umum
Puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Doa” menggambarkan sussana sunyi mengharukan yang jauh dari keramaian karena dalam sussana yang tenang, situasi yang tepat untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain utu puisi di atas juga memiliki corak keagamaaan atau lebih kental dengan nilai-nilai religi (keislaman), dapat dilihat dari judulnya “Doa” sajk-sajaknya mengungkapkan perasaan seseorang yang ingin selalu dekat dengan tuhannya. Dengan ketulusan hati ia percaya akan kekuasaan dan kebesaran tuhan bahwasanya Dialah yang membuat kehidupan ini dan setelah adanya hehidupan hanya kepada Dialah kita akan kembali (Allah SWT).
c. Penelompokan Tanda
1. Indeks:
Panas: Api
Suci: Bersih
Sunyi: sepi
Remuk; Hancur
2. Simbol
Hilang: menandakan tidak ada, pergi.
Remuk: menandakan hancur, musnah.
Kerlip lilin: menandakan redupnya sahaya atau sinar.
Kelam: menanddakan kegelapan malam.
Mengembara; menandakan seorang penyair melakukan perjalanan, berpindah tempat, hijrah.
d. Parafrase
Doa
(Wahai) Tuhanku
(Di) Dalam (sana aku) termenung
(Di) dalam termenung) Aku masih (tetap) menyebut nama-Mu
Biar (pun) susah (akau tetap) sungguh (sungguh)
Mengingat Kau (dengan se) penuh (hati dan) seluruh (jiwa raga)
Sinar) Ca(ha)ya-Mu (yang) panas (tapi) suci
Tinggal (kan) kerlip lilin di kelam (yang) sunyi
(Wakai) Tuhanku
Aku (meng) hilang (tak ber) bentuk
(Tubuhku) Remuk
(Wahai) Tuhanku
Aku Rela) mengembara di negeri asing
(Wahai) Tuhanku
(Hanya) Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku (benar-benar) tidak bisa berpaling (darimu)
e. Tema
Puisi “Doa” karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan sangat kental dengan kata-kata ketuhanan. Kata “Doa” yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan tuhan atau Sang Pencipta alam dan seisinya. Kata-kata lain yang mendukung tema adalah: Tuhanku, nama-Mu, mengingat Kau, caya-Mu, di pintu-Mu. Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungan dalam sebuah kesendirian dari seorang penyair yang menyadari bahwa ia tidak bisa terlepas dari Tuhan sebab kita hidup karena Tuhan, kita mati juga karena Tuhan, dan hanya kepada Tuhan kita semua akan kemali.
Dari cara penyair memaparkan isi hatinya, puisi”Doa”sangat tepat bila digolongkan pada aliran ekspresionisme, yaitu sebuah aliran yang menekankan segenap perasaan atau jiwanya.. Seperti pada kutipan larik berikut :
(1) Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
(2) Aku hilang bentuk
remuk
(3) Di Pintu-Mu aku mengetuk
Akut idak bisa berpaling
Puisi yang bertemakan ketuhanan (Doa) ini memang mengungkapkan dialog dirinya (penyair) dengan Tuhan. Kata “Tuhan” yang disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut, seolah-olah penyair sedang berbicara atau berkomunikasi dengan Tuhan.
f. Nada dan Suasana
Nada berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan atau sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibat pembacaan puisi.
Nada yang berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan betapa dekatnya hubungan penyair dengan Tuhannya. Berhubungan dengan pembaca, maka puisi “Doa” tersebut bernada sebuah ajakan terhadap pembaca, agar pembaca menyadari bahwa hidup dan mati kita ini karena Tuhan, maka kita tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.
g. Perasaan
Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Dalam puisi ”Doa” gambaran perasaan penyair adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain:
Aku termenung, menyebut nama-Mu,
Aku hilang bentuk,
remuk,
Aku tak bisa berpaling.
h. Amanat
Sesuai dengan tema yang diangkatnya, puisi ”Doa” ini berisi amanat kepada pembaca agar menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar bisa melakukan amanat tersebut, pembaca bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair. Penyair juga mengingatkan pada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah ”pengembaraan di negeri asing” yang suatu saat akan kembali juga. Hal ini dipertegas penyair pada bait terakhir sebagai berikut:
Tuhanku,
Di Puntu-Mu Aku mengetuk
Aklu tidak bisa berpaling
BAB V
PENUTUP
Puisi “Doa” keseluruhan didominasi oleh adanya bunyi /u/.bunyi /u/ yang mendominasi keseluruhan puisi ini mempunyai fungsi menimbulkan suasana sedih, haru, pasrah, rela, sunyi, dan sepi. Bunyi /u/ terasa yang mewarnai keseluruhan puisi, sengaja dimanfaatkan oleh penyair untuk mencapai efek makna sekaligus juga untuk mencapai efek estetik.
Pengulangan rima (persamaan bunyi pada akhir kata) juga mendominasi keseluruhan puisi. Dalam hal ini terdapat pengulangan rima akhir. Pengulangan rima akhir pada keempat bait itu membentuk pola yang sama sehingga menimbulkan kedekatan, kekhusu’an, keakraban penyair sebagai makhluk dengan Tuhan.
Untuk penciraannya lebih menekankan pada bahasa kias yaitu majas metafora dan hiperbola.
Puisi “Doa” mengungkapkan tentang tema ketuhanan. Seseorang seseorang merenung si dalam kesunyian, ia memohon, berharap dan melantunkan pukian kepada Tuhan
Puisi “Doa” karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan sangat kental dengan kata-kata ketuhanan. Kata “Doa” yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan tuhan atau Sang Pencipta alam dan seisinya.
Senin, 07 Maret 2011
PAMERAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pameran
B. Peserta Pameran
1. Penerbit Jabal
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan penerbit Jabal dalam mengikuti Islamic Book Fair adalah sebagai berikut:
1) Memperrsiapkan display
2) Membuat stand yang menarik
3) Promosi
4) Diskon-diskon harga
5) Buku best seller lebih dikedepankan
6) Marketing harus aktif
b. Anggaran dalam mengikuti pameran
Biaya yang dipersiapkan oleh Penerbit Jabal dalam mengikuti pameran sebesar Rp. 2.700.000.
1) Biaya sewa stand : Rp 2.500.000
2) Peralatan : Rp 200.000
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Penerbit Jabal memiliki tujuan yang ingin dicapai ketika mengikuti pameran yaitu sebagai berikut:
1) Mempromosikan buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Jabal.
2) Memperkenalkan produk yang telah diterbitkan.
3) Meningkatkan daya minat membaca.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Penerbit Jabal memiliki dua target yang ingin dicapai dalam mengikuti pameran, yaitu target dari penerbit itu sendiri dan target individu.
1) Target Penerbit
Adalah dapat mencapai mengumpulkan omset Rp. 20.000.000 selama pameran berlangsung.
2) Target Individu
Adalah setiap hari harus ada peningkatan yang lebih baik dari hari kemarin.
2. Penerbit grafindo Khasanah Ilmu
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair adalanh sebagai berikut:
1) Planning
Konfirmasi antara penerbit di dalam menyiapkan display.
2) Controlling
Survei lokasi pameran.
3) Loading
Memasukkan buku-buku untuk ditata dalam stand pameran.
b. Anggarn dalam mengikuti pameran
Anggaran yang dipersiapkan Penerbit Gradindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair sebesar Rp. 5.000.000.
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu memiliki beberapa tujuan dalam mengikuti pameran yaitu sebagai berikut:
1) Promosi sebagai cara mengenalkan produk.
2) Memperluas jaringan relasi anntarpenerbit.
3) Meningkatkan gemar minat membaca.
4) Memnambah omset.
5) Meningkatkan daya beli para pembeli.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Terdapat dua taget Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair.
1) Menuai hasil yang maksimal.
2) Memperoleh omset pemasukan seperti yang duharapkan oleh setiap penerbit.
3. Penerbit Shourukh International
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan Penerbit Shourukh International dalam mengikuti islamic Book Fair adalah mencatat buku dalam pameran kemudian dicatat daftar bukunya.
b. Anggarn dalam mengikuti pameran
Anggaran yang dipersiapkan oleh Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pameran adalah sebesar Rp. 10.000.000.
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Tujuan Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pemeran ini adalah untuk promosi penerbit dala hal ini adalah Penerbit shourukh International.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Target Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pameran adalah mampu meningkatkan penjualan buku-buku oleh Penerbit Shourkh International seperti yang telah diharapkan dan direncanakan.
Demi terciptanya kelancara, ketertiban, keamanan, dan segala yangmendukung jalannya pameran yang bertajuk Islamic Book Fair haruslah dibentuk manajemen yang baik. Diantara struktur manajemen penyelenggaraan pameran tersebit adalah
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pameran
B. Peserta Pameran
1. Penerbit Jabal
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan penerbit Jabal dalam mengikuti Islamic Book Fair adalah sebagai berikut:
1) Memperrsiapkan display
2) Membuat stand yang menarik
3) Promosi
4) Diskon-diskon harga
5) Buku best seller lebih dikedepankan
6) Marketing harus aktif
b. Anggaran dalam mengikuti pameran
Biaya yang dipersiapkan oleh Penerbit Jabal dalam mengikuti pameran sebesar Rp. 2.700.000.
1) Biaya sewa stand : Rp 2.500.000
2) Peralatan : Rp 200.000
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Penerbit Jabal memiliki tujuan yang ingin dicapai ketika mengikuti pameran yaitu sebagai berikut:
1) Mempromosikan buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Jabal.
2) Memperkenalkan produk yang telah diterbitkan.
3) Meningkatkan daya minat membaca.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Penerbit Jabal memiliki dua target yang ingin dicapai dalam mengikuti pameran, yaitu target dari penerbit itu sendiri dan target individu.
1) Target Penerbit
Adalah dapat mencapai mengumpulkan omset Rp. 20.000.000 selama pameran berlangsung.
2) Target Individu
Adalah setiap hari harus ada peningkatan yang lebih baik dari hari kemarin.
2. Penerbit grafindo Khasanah Ilmu
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair adalanh sebagai berikut:
1) Planning
Konfirmasi antara penerbit di dalam menyiapkan display.
2) Controlling
Survei lokasi pameran.
3) Loading
Memasukkan buku-buku untuk ditata dalam stand pameran.
b. Anggarn dalam mengikuti pameran
Anggaran yang dipersiapkan Penerbit Gradindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair sebesar Rp. 5.000.000.
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu memiliki beberapa tujuan dalam mengikuti pameran yaitu sebagai berikut:
1) Promosi sebagai cara mengenalkan produk.
2) Memperluas jaringan relasi anntarpenerbit.
3) Meningkatkan gemar minat membaca.
4) Memnambah omset.
5) Meningkatkan daya beli para pembeli.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Terdapat dua taget Penerbit Grafindo Khasanah Ilmu dalam mengikuti Islamic Book Fair.
1) Menuai hasil yang maksimal.
2) Memperoleh omset pemasukan seperti yang duharapkan oleh setiap penerbit.
3. Penerbit Shourukh International
a. Persiapan penerbit dalam mengikuti pameran
Persiapan Penerbit Shourukh International dalam mengikuti islamic Book Fair adalah mencatat buku dalam pameran kemudian dicatat daftar bukunya.
b. Anggarn dalam mengikuti pameran
Anggaran yang dipersiapkan oleh Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pameran adalah sebesar Rp. 10.000.000.
c. Pihak yang terlibat dalam pameran
d. Tujuan penerbit mengikuti pameran
Tujuan Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pemeran ini adalah untuk promosi penerbit dala hal ini adalah Penerbit shourukh International.
e. Target penerbit dalam mengikuti pameran
Target Penerbit Shourukh International dalam mengikuti pameran adalah mampu meningkatkan penjualan buku-buku oleh Penerbit Shourkh International seperti yang telah diharapkan dan direncanakan.
Demi terciptanya kelancara, ketertiban, keamanan, dan segala yangmendukung jalannya pameran yang bertajuk Islamic Book Fair haruslah dibentuk manajemen yang baik. Diantara struktur manajemen penyelenggaraan pameran tersebit adalah
PERANAN STILISTIKA DALAM STUDI SASTRA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stilistika menurut Sudjima (dalam Satoto, 1995: 6) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Sangat menarik bahwa dalam perkembangan linguistik terapan bahwa munculnya minat bahkan kesungguhan hati para pakar linguis untuk menerapkan teori dan pendekatan linguistik dalam rangka pengkajian sastra (Satoto, 1995:6). Begitu eratnya pengkajian bahasa dan sastra, sehingga bidang studi stilistika menjadi incaran yang menggairahkan bagi para ahli bahasa dan aahli sastra. Stilistika adalah studi yang menjembatani pengkajian bahasa dan sastra dengan mengkaji apa sebenarnya hubungan antara bahasa dan sastra (Satoto, 1995:6).
Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genrenya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu.
Menurut Aminuddin (2008) gaya merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.
Stilistika dalam kajian karya sastra mamiliki hubungan yang sangat erat karena dalam sebuah karya sastra terdapat style sedangkan stilistika merupakan cabang ilmu sastra yang mengkaji tantang stail atau gaya.
B. Rumusan Masalah
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka dirumuskan tujuan dari makalah ini.
1. Apa yang dimaksud dengan kajian stilistika?
2. Bagaimana peran stilistika dalam studi karya sastra?
C. Tujuan
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka tujuan dari makalah ini.
1. Mendeskrisikan tentang kajian stilistika.
2. Mendeskripsikan tentang peran stilistika dalam studi karya sastra.
D. Manfaat
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka manfaat dari makalah ini.
1. Mengetahui maksud dari kajian stilistika.
2. Mengetahui bagaimana peran stilistika dalam studi karya sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Stilistika
Pada mulanya stilistika oleh penemunya, Carles Bally (dalam Hend Out Ali Imron,2008:15) tidak dimasukkan sebagai studi gaya sastra, melainkan untuk studi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi tujuan hidup. Menurut Bally stilistika adalah studi tentang efek-efek ekspresif dan mekanisme dalam semua bahasa-bahasa. Baginya stilistika merupakan sumber-sumber ekspresif bahasa dan mengeluarkanya dari dalamnya studi bahasa sastra yang diorganisasikan untuk tujuan estetik.
Tetapi Cressot (dalam Hend Out Ali Imron,2008:15) menyatakan bahwa kesusastraan adalah bidang stilistika yang utama karena dalam bidang kesusastraan pilihan gaya lebih manasuka dan lebih sadar.
Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sstem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian. Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya adalah kontras system bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren : 1990 : 221).
Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati,memahami,dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
Dari penjelasan selintas di atas dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan apresiasi sastra meliputi :
1. Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.
2. Analisis hubungan antara system tanda yang satu dengan yang lainnya.
3. Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin, 1995 :98).
Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995 : 42).
Pada kritik sastra ini prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :
1. Analisis aspek gaya dalam karya sastra.
2. Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda baca dan cara penulisan.
3. Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra
B. Peranan stilistika dalam studi karya sastra
Gaya menurut Envist (dalam Hend Out Ali Imron,2008:20) setiap pengarang dalam kajian stilistika memperlihatkan ciri pribadi. Gaya dapat diperbincangkan dalam pemakaian bahasa pada jenis-jenis gaya nonsastra, namun istilah gaya dalam hal ini secara umum berkaitan dengan pemakaian bahasa dalam karya sastra sebagai bahan kajian sastra.
Altenbend (dalam Hend Out Ali Imron, 2008:20) menyatakan bahwa sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan sarana retorika itu pengarang berusaha untuk menarik perhatian dan pikiran pembaca berkontemplasi terhadap apa yang diekspresikan pengarang. Dalam karya sastra setiap kata memiliki tautan, emotif, moral, disamping maknanya yang netral. Oleh karena itu gaya bahasa merupakan pemanfaatan potensi bahasa yang ekspresif dan emotif. Adanya pemerkayaan makna dalam karya sastra merupakan salah satu ciri khas wacana karya sastra itu sendiri. Jadi pemanfaatan potensi-bahasa secara khusus akan mampu memberikan pemerkayaan makna dan penggambaran objek. Pemerkayaan ini dimungkinkan karena adanya potensi pemanfaatan sebagai bentuk sistem tanda yang mungkin. Oleh karena itu stilistika berpangkal pada bentuk ekspresi kebahasaan
Style ‘gaya bahasa’ menutut sudjiman (dalam Hend Out Ali Imron, 2008: 21) akan dikemukakan beberapa konsep kebahasaan yang berkaitan dengan style dalam kajian stilistika karya sastra.
1. Diksi (pemilihan kata)
Kata berkaitan erat dengan hakikat karya sastra yang penuh itensitas. Sastrawan dituntut untuk dengan cermat dalam pemilihan kata, karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi kalimat dalam wacana.
2. Pencitraan kata
Pencitraan berkaitan erat dengan diksi karena sebuah kata atau serangkaian kata tertentu dapat memberikan pencitraan tertentu. Pencitraan kata merupakan gambaran angan-angan dalam sastra, termasuk puisi. Penyair tidak hanya menciptakan musuk verbal tetapi juga pencipta gambaran dalam kata-kata mendiskripsikan sesuatu.
3. Tuturan figurative
Tuturan figurative adalah bahasa untuk menyatakan suatu mkna dengan cara yang tidak biasa atau tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.
.
BAB III
PENITUP
Stilistika ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genrenya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya.
Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sstem tanda dalam karya sastra
Ada beberapa konsep kebahasaan yang berkaitan dengan style dalam kajian stilistika karya sastra yang meliputi: 1) Diksi (pemilihan kata), 2) Pencitraan kata, 3) Tuturan figurative.
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press..
Imron, Ali A.M. 2008. HEND OUT “Stilistika Sebuah Pengantar”. Surakrta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Satoto, Sudiro. 1995. Stilistika. Surakarta: STSI Surakarta.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stilistika menurut Sudjima (dalam Satoto, 1995: 6) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Sangat menarik bahwa dalam perkembangan linguistik terapan bahwa munculnya minat bahkan kesungguhan hati para pakar linguis untuk menerapkan teori dan pendekatan linguistik dalam rangka pengkajian sastra (Satoto, 1995:6). Begitu eratnya pengkajian bahasa dan sastra, sehingga bidang studi stilistika menjadi incaran yang menggairahkan bagi para ahli bahasa dan aahli sastra. Stilistika adalah studi yang menjembatani pengkajian bahasa dan sastra dengan mengkaji apa sebenarnya hubungan antara bahasa dan sastra (Satoto, 1995:6).
Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genrenya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya. Khusus dalam kaitan bahasa dalam sastra, pengarang mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan tujuan tertentu.
Menurut Aminuddin (2008) gaya merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya. Sebagai wujud cara menggunakan kode kebahasaan, gaya merupakan relasional yang berhubungan dengan rentetan kata, kalimat dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai sistem tanda. Jadi, gaya merupakan simbol verbal.
Stilistika dalam kajian karya sastra mamiliki hubungan yang sangat erat karena dalam sebuah karya sastra terdapat style sedangkan stilistika merupakan cabang ilmu sastra yang mengkaji tantang stail atau gaya.
B. Rumusan Masalah
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka dirumuskan tujuan dari makalah ini.
1. Apa yang dimaksud dengan kajian stilistika?
2. Bagaimana peran stilistika dalam studi karya sastra?
C. Tujuan
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka tujuan dari makalah ini.
1. Mendeskrisikan tentang kajian stilistika.
2. Mendeskripsikan tentang peran stilistika dalam studi karya sastra.
D. Manfaat
Suatu makalah harus mempunyai tujuan lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka manfaat dari makalah ini.
1. Mengetahui maksud dari kajian stilistika.
2. Mengetahui bagaimana peran stilistika dalam studi karya sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Stilistika
Pada mulanya stilistika oleh penemunya, Carles Bally (dalam Hend Out Ali Imron,2008:15) tidak dimasukkan sebagai studi gaya sastra, melainkan untuk studi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi tujuan hidup. Menurut Bally stilistika adalah studi tentang efek-efek ekspresif dan mekanisme dalam semua bahasa-bahasa. Baginya stilistika merupakan sumber-sumber ekspresif bahasa dan mengeluarkanya dari dalamnya studi bahasa sastra yang diorganisasikan untuk tujuan estetik.
Tetapi Cressot (dalam Hend Out Ali Imron,2008:15) menyatakan bahwa kesusastraan adalah bidang stilistika yang utama karena dalam bidang kesusastraan pilihan gaya lebih manasuka dan lebih sadar.
Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sstem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian. Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya adalah kontras system bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren : 1990 : 221).
Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati,memahami,dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
Dari penjelasan selintas di atas dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan apresiasi sastra meliputi :
1. Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.
2. Analisis hubungan antara system tanda yang satu dengan yang lainnya.
3. Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin, 1995 :98).
Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995 : 42).
Pada kritik sastra ini prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :
1. Analisis aspek gaya dalam karya sastra.
2. Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda baca dan cara penulisan.
3. Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra
B. Peranan stilistika dalam studi karya sastra
Gaya menurut Envist (dalam Hend Out Ali Imron,2008:20) setiap pengarang dalam kajian stilistika memperlihatkan ciri pribadi. Gaya dapat diperbincangkan dalam pemakaian bahasa pada jenis-jenis gaya nonsastra, namun istilah gaya dalam hal ini secara umum berkaitan dengan pemakaian bahasa dalam karya sastra sebagai bahan kajian sastra.
Altenbend (dalam Hend Out Ali Imron, 2008:20) menyatakan bahwa sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan sarana retorika itu pengarang berusaha untuk menarik perhatian dan pikiran pembaca berkontemplasi terhadap apa yang diekspresikan pengarang. Dalam karya sastra setiap kata memiliki tautan, emotif, moral, disamping maknanya yang netral. Oleh karena itu gaya bahasa merupakan pemanfaatan potensi bahasa yang ekspresif dan emotif. Adanya pemerkayaan makna dalam karya sastra merupakan salah satu ciri khas wacana karya sastra itu sendiri. Jadi pemanfaatan potensi-bahasa secara khusus akan mampu memberikan pemerkayaan makna dan penggambaran objek. Pemerkayaan ini dimungkinkan karena adanya potensi pemanfaatan sebagai bentuk sistem tanda yang mungkin. Oleh karena itu stilistika berpangkal pada bentuk ekspresi kebahasaan
Style ‘gaya bahasa’ menutut sudjiman (dalam Hend Out Ali Imron, 2008: 21) akan dikemukakan beberapa konsep kebahasaan yang berkaitan dengan style dalam kajian stilistika karya sastra.
1. Diksi (pemilihan kata)
Kata berkaitan erat dengan hakikat karya sastra yang penuh itensitas. Sastrawan dituntut untuk dengan cermat dalam pemilihan kata, karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi kalimat dalam wacana.
2. Pencitraan kata
Pencitraan berkaitan erat dengan diksi karena sebuah kata atau serangkaian kata tertentu dapat memberikan pencitraan tertentu. Pencitraan kata merupakan gambaran angan-angan dalam sastra, termasuk puisi. Penyair tidak hanya menciptakan musuk verbal tetapi juga pencipta gambaran dalam kata-kata mendiskripsikan sesuatu.
3. Tuturan figurative
Tuturan figurative adalah bahasa untuk menyatakan suatu mkna dengan cara yang tidak biasa atau tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.
.
BAB III
PENITUP
Stilistika ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Ciri khas sebuah karya sastra tidak saja dilihat berdasarkan genrenya, tetapi dapat pula dilihat melalui konvensi sastra maupun konvensi bahasanya.
Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sstem tanda dalam karya sastra
Ada beberapa konsep kebahasaan yang berkaitan dengan style dalam kajian stilistika karya sastra yang meliputi: 1) Diksi (pemilihan kata), 2) Pencitraan kata, 3) Tuturan figurative.
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press..
Imron, Ali A.M. 2008. HEND OUT “Stilistika Sebuah Pengantar”. Surakrta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Satoto, Sudiro. 1995. Stilistika. Surakarta: STSI Surakarta.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
KESALAHAN BIDANG SINTAKSIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat atau sarana komunikasi yang digunakan antar manusia. Bahasa dapat mengekspresikan maksud dan tujuan seseorang. Lewat bahasa pula kita dapat memahami serta berkomunikasi dengan baik sesama manusia. Dengan latar belakang diatas maka kita dapat mengetahui bahwa sebagian besar penduduk di dunia adalah dwibahasawan, maksudnya bahwa sebagian manusia di bumi ini menggunakan dua bahasa atau lebih sebagai alat komunikasi.
Orang yang biasa menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian untuk tujuan yang berbeda merupakan agen pergontak dua bahasa. Semakin besar jumlah orang yang seperti ini, maka semakin intensif pula kontak antara dua bahasa yang mereka gunakan. Kontak ini menimbulkan saling pengaruh, yang manifestasinya menjelma didalam penerapan kaidah bahasa pertama (B1) didalam penggunaan bahasa kedua ( B2 ). Keadaan sebaliknya pun dapat terjadi didalam pemakaian sistem B2, pada saat penggunaan B1. Salah satu dampak negatif dari praktek penggunaan dua bahasa secara bergantian adalah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa, yang lebih dikenal dengan istilah interferensi (Khairul Matien : 2-3).
Sebagai seorang calon guru khususnya guru Bahasa Indonesia sering kita menjumpai kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para siswa. Kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para siswa tersebut ternyata dapat dibagi kedalam 2 kategori yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan yang meliputi menyimak, membaca, menulis dan membaca, serta kesalahan dalam bidang linguistik yang meliputi tata bentuk bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), tata bentuk kalimat (sintaksis).
Pengertian dari Analisis Kesalahan Berbahasa itu sendiri adalah suatu teknik untuk mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara sistematis kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh si terdidik atau siswa yang sedang belajar bahasa asing atau bahasa kedua dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur berdasarkan linguistik (Pateda, 1989 : 32).
Sementara Pateda (50-66) juga menjelaskan bahwa analisis kesalahan berbahasa dibagi kedalam daerah-daerah kesalahannya. Menurut pateda daerah kesalahan berbahasa dibagi menjadi 4 antara lain : (1) Daerah kesalahan fonologi, (2) Daerah kesalahan morfologi, (3) Daerah kesalahan sintaksis, (4) Daerah kesalahan semantis. Meskipun daerah kesalahan tersebut sudah diklasifikasikan tetapi antara daerah kesalahan bahasa satu dengan yang lain saling berhubungan.
Dalam makalah ini kami akan mencoba menganalisis lebih spesifik atau mendetail lagi mengenai salah satu daerah kesalahan berbahasa seperti yang diungkapkan oleh pateda diatas. Salah satu daerah kesalahan yang ingin kita analisis yaitu Daerah kesalahan Bidang Sintaksis (Kalimat).
B. Rumusan Masalah
Agar permasalahan yang akan dibahas menjadi terarah dan menuju tujuan yang diinginkan diperlukan adanya perumusan masalah. Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang di maksud dengan kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis?
2. Bagaimanakah kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)?
C. Tujuan
Suatu penelitian harus mempunyai tujuan agar penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka dirumuskan tujuan dari penelitian ini.
1. Mendeskripsikan mengenai pengertian dari Analisis Kesalahan dalam bidang Sintaksis.
2. menjelaskan Analisis kesalahan Berbahasa dalam Bidang Sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Bidang Sintaksis
Menurut Sofa (2008) bahwa Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat (Lubis Grafura : 2008). Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM, MD) (Maharsiwi : 2009). Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2. Di sisi yang lain Samsuri dalam Maharsiwi (2009) mengungkapkan bahwa dalam berbahasa mengucapkan kalimat-kalimat, untuk dapat berbahasa dengan baik, kita harus dapat menyusun kalimat yang baik. Untuk dapat menyusun kalimat yang baik, kita harus menguasai kaidah tata kalimat (sintaksis). Hal ini disebabkan tata kalimat menduduki posisi penting dalam ilmu bahasa.
Kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap (Werdiningsih, 2006:77-79) dalam (Budi Santoso). Kesatuan kalimat dalam bahasa tulis dimulai dari penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan penggunaan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru pada akhir kalimat. (Werdiningsih, 2006:78) dalam (Budi Santoso) mengungkapkan bahwa sebuah kalimat dikatakan efektif jika dapat mendukung fungsinya sebagai alat komunikasi yang efektif. Maksudnya bahwa kalimat tersebut mampu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan gagasan secara jelas sehingga terungkap oleh pembaca sebagaimana diinginkan.
Menurut Arifin (2001: 116) sebuah kalimat hendaknya berisikan suatu gagasan atau ide. Agar gagasan atau ide sebuah kalimat dapt dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi subjek, predikat, objek, dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit). Di samping unsur eksplisit kalimat harus dirakit secara logis dan teratur.
Pateda (1989 : 58) menyatakan bahwa kesalahan pada daerah sintaksis berhubungan erat dengan kesalahan pada morfologi, karena kalimat berunsurkan kata-kata itu sebabnya daerah kesalahan sintaksis berhubungan misalnya dengan kalimat yang berstruktur tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang menbentuk kalimat, kalimat mubazir, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat dan logika kalimat.
B. Analisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)
Menurut Sungkar Kartopati (2010) dalam pembelajaran bidang sintaksis terdapat 4 aspek yang berhubungan dengan analisis kesalahn berbahasa, yaitu :
1. Pembelajaran Sintaksis dalam mendengarkan
Kalimat merupakan satuan kata yang mengandung gagasan yang menjadi pokok yang didengar. Dari kegiatan mendengarkan tersebut respon atau tanggapan yang diharapkan dapat berupa aspek keterampilan yang bersifat produktif misalnya menulis atau berbicara. Dalam kegiatan atau sesuatu yang didengar tersebut diharapkan si pendengar dapat menyimpulkan sesuatu yang didengar dalam kalimat yang benar pula. Sebagai contoh dalam sebuah Tujuan Pembelajaran dijelaskan bahwa hasil yang diharapkan adalah siswa mampu menyimpulkan isi berita dari bahan dengaran ke dalam beberapa kalimat dan menuliskan kembali berita yang dari bahan dengaran dalam beberapa kalimat.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut siswa tentu saja harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kalimat dan unsur-unsur pembentuknya. Bagaimana membuat kalimat yang efektif dan mudah dipahami oleh orang lain. Untuk mengajarkan kalimat kepada siswa guru dapat menggunakan menggunakan metode-metode yang komunikatif dan melibatkan siswa secara langsung dalam membuat atau menganalisis kalimat.
2. Pembelajaran Sintaksis dalam Berbicara
Kecermatan dalam menyusun kalimat merupakan syarat bagi siswa ketika berbicara agar gagasan atau ide yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh pendengar dengan baik. Pengetahuan tentang seluk beluk kalimat, baik jenis kalimat maupun keefektifan dalam menyusun sebuah kalimat sangatlah perlu. Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas yang menanyakan apakah A menjelaskan B, ataukah B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini kalau diterjemahkan ke dalam kalimat menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya menyangkut persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi juga menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat.
Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya. Contoh kasus seoarang guru yang sedang menasihati siswa dapat disusun ke dalam bentuk kalimat pasif juga aktif. Kalimat guru menasehati siswa menempatkan guru sebagai subjek. Dengan menempatkan guru di awal kalimat, memberi klarifikasi atas kesalahan siswa. Sebaliknya kalimat siswa dinasehati guru, guru ditempatkan tersembunyi. Makna yang muncul dari susunan kalimat ini berbeda karena posisi sentral dalam kedua kalimat ini adalah guru. Struktur kalimat bisa dibuat aktif atau pasif, tetapi umumnya pokok yang dianggap penting selalu ditempatkan diawal kalimat.
3. Pembelajaran Sintaksis dalam Membaca
Sintaksis merupakan tataran gramatikal sesudah morfologi. Untuk Kalimat-kalimat yang dirangkai hingga membentuk wacana harus dapat dipahami oleh siswa sehingga siswa dapat memahami sebuah tulisan melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, pengetahuan tentang kalimat perlu diberikan kepada siswa, melalui keterampilan bahasa lainnya.
4. Pembelajaran Sintaksis dalam Menulis
Sintaksis atau tata kalimat yang mewajibkan siswa untuk dapat menyusun kalimat secara efektif dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa seringkali mengalami kesulitan dalam membuat kalimat sehingga menimbulkan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan gagasan yang ingin disampaikan tidak dapat dipahami oleh pembaca. Sebagai contoh seorang guru meminta murid membuat kalimat dengan kata hasil. Siswa membuatnya menjadi Hasil dari pada pembangunan harus kita nikmati, secara langsung guru pasti akan melihat pada kesalahan penggunaan kata daripada. Sintaksis dalam pembelajaran menulis dapat dikemas dalam berbagai teknik pembelajaran yang menarik, misalnya dengan menulis berantai, yaitu guru memberikan satu kalimat pembuka dan siswa diminta untuk melanjutkan kalimat tersebut, selain itu untuk menulis cerita guru dapat meminta siswa membuat paragraf pembuka atau penutup. Dengan demikian siswa akan tertarik untuk menulis.
5. Berbagai contoh kalimat yang salah serta analisisnya
“Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri”
Membaca kalimat diatas pasti kita mengatakan bahwa kalimat itu salah. Kalimat tersebut berbunyi “ Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri “. Poerwadarminta (1976:367) dalam Pateda (1989 : 60) menyatakan bahwa kata “ialah” bermakna “yaitu”, dan kata “yaitu” bermakna “ialah”. Dengan demikian kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi :
“Kesalahan orang itu ialah mencuri”
“Kesalahan orang itu yaitu mencuri”
“ Para sodara jamaah pengajian sekalian yang kita hormati,….. Kita bersyukur kepada para pelantara agama yang mana pada beliau-beliau itu begitu gigih memperjuangkan agama….”
Kita lihat kesalahan yang sering kita jumpai ini adalah kerancuan atau gejala pleonasme dalam penjamakan. Kata / para / yang sudah menunjukkan lebih dari satu sering digabungkan dengan kata / sekalian / atau diulang misalnya / para pengurus-pengurus, para bapak-bapak, dan sebagainya yang sudah sama-sama bermakna banyak. Demikian pula akhiran asing /-in / pada kata hadirin, ini juga sudah menandakan banyak. Kesalahan serupa sering kita simak misalnya pada saat ada pertunjukkan hiburan di lapangan, pembawa acara menyambut penampilan penyanyi idola mereka dengan ucapan “ Baiklah para hadirin sekalian, kita sambut penyanyi kesayangan kita…..” Bentuk yang benar adalah para hadir ( tetapi kurang baik, kurang lazim ), sehingga bentuk yang baik dan benar adalah cukup hadirin atau ditambah dengan kata sifat yang berbahagia. Dalam pengajian bisa menggunakan sapaan Hadirin yang berbahagia, Bapak/ Ibu sekalian, Bapak/ Ibu/ Saudara sekalian yang saya hormati, Saudara-saudara yang berbahagia, Para Saudara jamaah pengajian yang berbahagia atau yang mengharap rida Allah, yang dimulyakan Allah, dan sebagainya. Bentuk sapaan sodara dalam pengucapan memang alih-alih menjadi bunyi / o /, padahal dalam penulisan dan juga pelafalan yang tepat adalah saudara ( secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yakni / sa / yang berarti satu dan / udara / yang berarti perut, jadi artinya adalah satu perut atau berasal dari satu perut ibu seperti kakak, adik. Lama-kelamaan kata itu meluas penggunaanya. Demikian pula kata / ibu /, / bapak / yang dialamatkan hanya pada lingkungan keluarga saja (Inta Sahrudin : 2008)
BAB III
KESIMPULAN
Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap. Sbuah kalimat hendaknya berisikan suatu gagasan atau ide. Agar gagasan atau ide sebuah kalimat dapt dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi subjek, predikat, objek, dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit).
Analisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya yaitu sebagai berikut: Pembelajaran Sintaksis dalam mendengarkan, pembelajaran sintaksis membaca, pembelajaran sintaksis berbicara, dan pembelajaran sintaksis dalam menulis.
“Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri”
Membaca kalimat diatas pasti kita mengatakan bahwa kalimat itu salah. Kalimat tersebut berbunyi “ Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri “. Poerwadarminta (1976:367) dalam Pateda (1989 : 60) menyatakan bahwa kata “ialah” bermakna “yaitu”, dan kata “yaitu” bermakna “ialah”. Dengan demikian kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi :
“Kesalahan orang itu ialah mencuri”
“Kesalahan orang itu yaitu mencuri”
Daftar Pustaka
Hastuti, SRI. 1989. Sekitar Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: PT Mitra Gama Widya.
Inta Sahrudin. 2008. Analisis Kesalahan Berbahasa. http://www.inta.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Khairul Matien. Bahan Ajar Analisis Kesalahan Berbahasa.
http://www.media.diknas.go.id. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Lubis Grafura. 2008. Anakon II. http://lubisgrafura.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010
Mansoer Pateda. 1989. Analisis Kesalahan. Nusa Indah
Maharsiwi widyaningrum. 2009. Analisis Kesalahan Bahasa Bab 2. http://materitutorbahasaindonesiapendasut.blogspot.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Sofa. 2009. Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan Bab 2. http://massofa.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Budi Santoso. Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Skripsi Mahasiswa Jurusan Nonbahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang. http://www.infodiknas.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Sungkar Kartopati. 2010. Pembelajaran Bahasa dan Empat Keterampilan Berbahasa. http://suksesbersamasukarto.blogspot.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat atau sarana komunikasi yang digunakan antar manusia. Bahasa dapat mengekspresikan maksud dan tujuan seseorang. Lewat bahasa pula kita dapat memahami serta berkomunikasi dengan baik sesama manusia. Dengan latar belakang diatas maka kita dapat mengetahui bahwa sebagian besar penduduk di dunia adalah dwibahasawan, maksudnya bahwa sebagian manusia di bumi ini menggunakan dua bahasa atau lebih sebagai alat komunikasi.
Orang yang biasa menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian untuk tujuan yang berbeda merupakan agen pergontak dua bahasa. Semakin besar jumlah orang yang seperti ini, maka semakin intensif pula kontak antara dua bahasa yang mereka gunakan. Kontak ini menimbulkan saling pengaruh, yang manifestasinya menjelma didalam penerapan kaidah bahasa pertama (B1) didalam penggunaan bahasa kedua ( B2 ). Keadaan sebaliknya pun dapat terjadi didalam pemakaian sistem B2, pada saat penggunaan B1. Salah satu dampak negatif dari praktek penggunaan dua bahasa secara bergantian adalah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa, yang lebih dikenal dengan istilah interferensi (Khairul Matien : 2-3).
Sebagai seorang calon guru khususnya guru Bahasa Indonesia sering kita menjumpai kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para siswa. Kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para siswa tersebut ternyata dapat dibagi kedalam 2 kategori yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan yang meliputi menyimak, membaca, menulis dan membaca, serta kesalahan dalam bidang linguistik yang meliputi tata bentuk bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), tata bentuk kalimat (sintaksis).
Pengertian dari Analisis Kesalahan Berbahasa itu sendiri adalah suatu teknik untuk mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara sistematis kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh si terdidik atau siswa yang sedang belajar bahasa asing atau bahasa kedua dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur berdasarkan linguistik (Pateda, 1989 : 32).
Sementara Pateda (50-66) juga menjelaskan bahwa analisis kesalahan berbahasa dibagi kedalam daerah-daerah kesalahannya. Menurut pateda daerah kesalahan berbahasa dibagi menjadi 4 antara lain : (1) Daerah kesalahan fonologi, (2) Daerah kesalahan morfologi, (3) Daerah kesalahan sintaksis, (4) Daerah kesalahan semantis. Meskipun daerah kesalahan tersebut sudah diklasifikasikan tetapi antara daerah kesalahan bahasa satu dengan yang lain saling berhubungan.
Dalam makalah ini kami akan mencoba menganalisis lebih spesifik atau mendetail lagi mengenai salah satu daerah kesalahan berbahasa seperti yang diungkapkan oleh pateda diatas. Salah satu daerah kesalahan yang ingin kita analisis yaitu Daerah kesalahan Bidang Sintaksis (Kalimat).
B. Rumusan Masalah
Agar permasalahan yang akan dibahas menjadi terarah dan menuju tujuan yang diinginkan diperlukan adanya perumusan masalah. Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang di maksud dengan kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis?
2. Bagaimanakah kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)?
C. Tujuan
Suatu penelitian harus mempunyai tujuan agar penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari bahasan utamanya, maka dirumuskan tujuan dari penelitian ini.
1. Mendeskripsikan mengenai pengertian dari Analisis Kesalahan dalam bidang Sintaksis.
2. menjelaskan Analisis kesalahan Berbahasa dalam Bidang Sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Bidang Sintaksis
Menurut Sofa (2008) bahwa Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat (Lubis Grafura : 2008). Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM, MD) (Maharsiwi : 2009). Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2. Di sisi yang lain Samsuri dalam Maharsiwi (2009) mengungkapkan bahwa dalam berbahasa mengucapkan kalimat-kalimat, untuk dapat berbahasa dengan baik, kita harus dapat menyusun kalimat yang baik. Untuk dapat menyusun kalimat yang baik, kita harus menguasai kaidah tata kalimat (sintaksis). Hal ini disebabkan tata kalimat menduduki posisi penting dalam ilmu bahasa.
Kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap (Werdiningsih, 2006:77-79) dalam (Budi Santoso). Kesatuan kalimat dalam bahasa tulis dimulai dari penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan penggunaan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru pada akhir kalimat. (Werdiningsih, 2006:78) dalam (Budi Santoso) mengungkapkan bahwa sebuah kalimat dikatakan efektif jika dapat mendukung fungsinya sebagai alat komunikasi yang efektif. Maksudnya bahwa kalimat tersebut mampu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan gagasan secara jelas sehingga terungkap oleh pembaca sebagaimana diinginkan.
Menurut Arifin (2001: 116) sebuah kalimat hendaknya berisikan suatu gagasan atau ide. Agar gagasan atau ide sebuah kalimat dapt dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi subjek, predikat, objek, dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit). Di samping unsur eksplisit kalimat harus dirakit secara logis dan teratur.
Pateda (1989 : 58) menyatakan bahwa kesalahan pada daerah sintaksis berhubungan erat dengan kesalahan pada morfologi, karena kalimat berunsurkan kata-kata itu sebabnya daerah kesalahan sintaksis berhubungan misalnya dengan kalimat yang berstruktur tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang menbentuk kalimat, kalimat mubazir, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat dan logika kalimat.
B. Analisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya (menyimak, membaca, menulis dan membaca)
Menurut Sungkar Kartopati (2010) dalam pembelajaran bidang sintaksis terdapat 4 aspek yang berhubungan dengan analisis kesalahn berbahasa, yaitu :
1. Pembelajaran Sintaksis dalam mendengarkan
Kalimat merupakan satuan kata yang mengandung gagasan yang menjadi pokok yang didengar. Dari kegiatan mendengarkan tersebut respon atau tanggapan yang diharapkan dapat berupa aspek keterampilan yang bersifat produktif misalnya menulis atau berbicara. Dalam kegiatan atau sesuatu yang didengar tersebut diharapkan si pendengar dapat menyimpulkan sesuatu yang didengar dalam kalimat yang benar pula. Sebagai contoh dalam sebuah Tujuan Pembelajaran dijelaskan bahwa hasil yang diharapkan adalah siswa mampu menyimpulkan isi berita dari bahan dengaran ke dalam beberapa kalimat dan menuliskan kembali berita yang dari bahan dengaran dalam beberapa kalimat.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut siswa tentu saja harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kalimat dan unsur-unsur pembentuknya. Bagaimana membuat kalimat yang efektif dan mudah dipahami oleh orang lain. Untuk mengajarkan kalimat kepada siswa guru dapat menggunakan menggunakan metode-metode yang komunikatif dan melibatkan siswa secara langsung dalam membuat atau menganalisis kalimat.
2. Pembelajaran Sintaksis dalam Berbicara
Kecermatan dalam menyusun kalimat merupakan syarat bagi siswa ketika berbicara agar gagasan atau ide yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh pendengar dengan baik. Pengetahuan tentang seluk beluk kalimat, baik jenis kalimat maupun keefektifan dalam menyusun sebuah kalimat sangatlah perlu. Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas yang menanyakan apakah A menjelaskan B, ataukah B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini kalau diterjemahkan ke dalam kalimat menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya menyangkut persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi juga menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat.
Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya. Contoh kasus seoarang guru yang sedang menasihati siswa dapat disusun ke dalam bentuk kalimat pasif juga aktif. Kalimat guru menasehati siswa menempatkan guru sebagai subjek. Dengan menempatkan guru di awal kalimat, memberi klarifikasi atas kesalahan siswa. Sebaliknya kalimat siswa dinasehati guru, guru ditempatkan tersembunyi. Makna yang muncul dari susunan kalimat ini berbeda karena posisi sentral dalam kedua kalimat ini adalah guru. Struktur kalimat bisa dibuat aktif atau pasif, tetapi umumnya pokok yang dianggap penting selalu ditempatkan diawal kalimat.
3. Pembelajaran Sintaksis dalam Membaca
Sintaksis merupakan tataran gramatikal sesudah morfologi. Untuk Kalimat-kalimat yang dirangkai hingga membentuk wacana harus dapat dipahami oleh siswa sehingga siswa dapat memahami sebuah tulisan melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, pengetahuan tentang kalimat perlu diberikan kepada siswa, melalui keterampilan bahasa lainnya.
4. Pembelajaran Sintaksis dalam Menulis
Sintaksis atau tata kalimat yang mewajibkan siswa untuk dapat menyusun kalimat secara efektif dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa seringkali mengalami kesulitan dalam membuat kalimat sehingga menimbulkan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan gagasan yang ingin disampaikan tidak dapat dipahami oleh pembaca. Sebagai contoh seorang guru meminta murid membuat kalimat dengan kata hasil. Siswa membuatnya menjadi Hasil dari pada pembangunan harus kita nikmati, secara langsung guru pasti akan melihat pada kesalahan penggunaan kata daripada. Sintaksis dalam pembelajaran menulis dapat dikemas dalam berbagai teknik pembelajaran yang menarik, misalnya dengan menulis berantai, yaitu guru memberikan satu kalimat pembuka dan siswa diminta untuk melanjutkan kalimat tersebut, selain itu untuk menulis cerita guru dapat meminta siswa membuat paragraf pembuka atau penutup. Dengan demikian siswa akan tertarik untuk menulis.
5. Berbagai contoh kalimat yang salah serta analisisnya
“Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri”
Membaca kalimat diatas pasti kita mengatakan bahwa kalimat itu salah. Kalimat tersebut berbunyi “ Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri “. Poerwadarminta (1976:367) dalam Pateda (1989 : 60) menyatakan bahwa kata “ialah” bermakna “yaitu”, dan kata “yaitu” bermakna “ialah”. Dengan demikian kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi :
“Kesalahan orang itu ialah mencuri”
“Kesalahan orang itu yaitu mencuri”
“ Para sodara jamaah pengajian sekalian yang kita hormati,….. Kita bersyukur kepada para pelantara agama yang mana pada beliau-beliau itu begitu gigih memperjuangkan agama….”
Kita lihat kesalahan yang sering kita jumpai ini adalah kerancuan atau gejala pleonasme dalam penjamakan. Kata / para / yang sudah menunjukkan lebih dari satu sering digabungkan dengan kata / sekalian / atau diulang misalnya / para pengurus-pengurus, para bapak-bapak, dan sebagainya yang sudah sama-sama bermakna banyak. Demikian pula akhiran asing /-in / pada kata hadirin, ini juga sudah menandakan banyak. Kesalahan serupa sering kita simak misalnya pada saat ada pertunjukkan hiburan di lapangan, pembawa acara menyambut penampilan penyanyi idola mereka dengan ucapan “ Baiklah para hadirin sekalian, kita sambut penyanyi kesayangan kita…..” Bentuk yang benar adalah para hadir ( tetapi kurang baik, kurang lazim ), sehingga bentuk yang baik dan benar adalah cukup hadirin atau ditambah dengan kata sifat yang berbahagia. Dalam pengajian bisa menggunakan sapaan Hadirin yang berbahagia, Bapak/ Ibu sekalian, Bapak/ Ibu/ Saudara sekalian yang saya hormati, Saudara-saudara yang berbahagia, Para Saudara jamaah pengajian yang berbahagia atau yang mengharap rida Allah, yang dimulyakan Allah, dan sebagainya. Bentuk sapaan sodara dalam pengucapan memang alih-alih menjadi bunyi / o /, padahal dalam penulisan dan juga pelafalan yang tepat adalah saudara ( secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yakni / sa / yang berarti satu dan / udara / yang berarti perut, jadi artinya adalah satu perut atau berasal dari satu perut ibu seperti kakak, adik. Lama-kelamaan kata itu meluas penggunaanya. Demikian pula kata / ibu /, / bapak / yang dialamatkan hanya pada lingkungan keluarga saja (Inta Sahrudin : 2008)
BAB III
KESIMPULAN
Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap. Sbuah kalimat hendaknya berisikan suatu gagasan atau ide. Agar gagasan atau ide sebuah kalimat dapt dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi subjek, predikat, objek, dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit).
Analisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis berdasarkan jenis keterampilannya yaitu sebagai berikut: Pembelajaran Sintaksis dalam mendengarkan, pembelajaran sintaksis membaca, pembelajaran sintaksis berbicara, dan pembelajaran sintaksis dalam menulis.
“Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri”
Membaca kalimat diatas pasti kita mengatakan bahwa kalimat itu salah. Kalimat tersebut berbunyi “ Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri “. Poerwadarminta (1976:367) dalam Pateda (1989 : 60) menyatakan bahwa kata “ialah” bermakna “yaitu”, dan kata “yaitu” bermakna “ialah”. Dengan demikian kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi :
“Kesalahan orang itu ialah mencuri”
“Kesalahan orang itu yaitu mencuri”
Daftar Pustaka
Hastuti, SRI. 1989. Sekitar Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: PT Mitra Gama Widya.
Inta Sahrudin. 2008. Analisis Kesalahan Berbahasa. http://www.inta.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Khairul Matien. Bahan Ajar Analisis Kesalahan Berbahasa.
http://www.media.diknas.go.id. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Lubis Grafura. 2008. Anakon II. http://lubisgrafura.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010
Mansoer Pateda. 1989. Analisis Kesalahan. Nusa Indah
Maharsiwi widyaningrum. 2009. Analisis Kesalahan Bahasa Bab 2. http://materitutorbahasaindonesiapendasut.blogspot.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Sofa. 2009. Analisis Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia Ragam Media dalam Surat Kabar Harian Radar Tarakan Bab 2. http://massofa.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Budi Santoso. Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Skripsi Mahasiswa Jurusan Nonbahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang. http://www.infodiknas.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Sungkar Kartopati. 2010. Pembelajaran Bahasa dan Empat Keterampilan Berbahasa. http://suksesbersamasukarto.blogspot.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
Minggu, 06 Maret 2011
MATA PISAU DAN PAGI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya, sehingga kreatifitas sastra harus mampu melahirkan kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia (Semi, 1988: 8). Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni dan ada lagi yang menyebut sebagai suatu karya, fiksi, puisi, drama, cerpen, dan lain-lain. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1990: 3).
Ratna (2004: 60) menyatakan bahwa pada dasarnya antara sastra dengan masyarakat terdapat hubungan yang hakiki. Hubungan-hubungan yang dimaksud disebabkan oleh (a) karya sastra oleh pengarang, (b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan, (d) hasil karya itu dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Puisi sebagai salah satu jenis sastra yang merupakan pernyataan sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesastraan mengental dalam puisi. Oleh karena itu puisi daru dahulu hingga sekarangpernyataan seni sastra yang paling baku. Membaca merupakan sebuah kenikmatan yang khusus, bahkan merupakan puncah kenikmatan seni sastra. Oleh karena itu sastra dari dahulu hingga sekarang puisi selalu diciptakan orang dan selalu dibaca , dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan seninya dan nilai kejiwaannya yang tinggi. Dari dahulu hingga sekarang, puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu ke waktu selalu meninggkat, maka, corak sikap, dan bentuk puisipun selalu berubah, mengikuti perkambangan selera, konsep estetik yang selalu berubah, dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat.
B. Perumusan Masalah
Dari penelitian terapat beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Apa makna yang terkandung dalam puisi MATA PISAU dan PAGI?
2. Struktur apa yang digunakan dalam puisi MATA PISAU dan PAGI?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan makna apa yang terkandung dalam puisi MATA PISAU dan PAGI.
2. Untuk mengetahui cara menganalisis struktur yang digunakan dalam puisi MATA PISAU dan PAGI.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter menurut Tarigan (dalam Ahmad: 2008) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa.
Herman J. Waluyo (dalam Kasandika: 2008) mendefinisikan bahwa Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Membaca puisi pada dasarnya merupakan usaha melakukan kontak lahir batin dengan puisi tersebut. Pembaca puisi perlu bergulat dengan segala kemampuan, pikiran, pengalaman dan perasaan terhadap puisi yang dibaca agar dapat menangkap segala makna dalam puisi. Mengapa hal tersebut diperlukan? Karena banyak puisi yang bersifat "menyembunyikan makna" dibalik baris-baris kata dan bait.
Dari sudut pandang bahasa, secara konvensional bahasa memiliki konsep Dwi-Tunggal: bentuk dan arti. Kata tertentu memiliki arti tertentu secara harfiah. Namun kata-kata yang digunakan pada puisi mengandung arti "tambahan" dengan memanipulasi bahasa dan memanfaatkan potensi yang ada pada bahasa. Kata-kata didalam puisi dapat membawa arti yang "ambiguous" dan dapat terjadi multiinterpretasi pada puisi yang sama (puisi dapat diinterpretasikan lebih dari satumacam). Menganalisis puisi berarti berusaha mengambil atau menemukan arti biasa maupun arti "tambahan" yang dikandung puisi tersebut. Disamping memahami arti atau makna puisi, kegiatan analisis juga berusaha untuk melihat struktur/ unsur-unsur puisi.
2. Unsur-unsur Puisi
Unsur-unsur puisi menurut Praba (2003) adalah segala sesuatu yang berperan membentuk/ membangun puisi menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur puisi dapat terdiri dari: bunyi, imaji, kiasan, tipografi, diksi, baris, bait, manipulasi tatabahasa dan lain-lain
Pendekatan struktur puisi agar dapat memahami puisi dengan baik, kita dapat berpegang pada prinsip berikut: Makna unsur-unsur puisi membentuk makna keseluruhan puisi. Makna unsur-unsur puisi dicari dengan terlebih dahulu mengandaikan makna keseluruhan puisi. Keberadaan suatu unsur puisi ditentukan oleh adanya unsur lainnya. Oleh karena itu, seluruh unsur-unsur puisi tidak membentuk makna sendiri-sendiri secara lepas tetapi secara bersama membentuk makna keseluruhan puisi. Maka puisi dikatakan sebagai karya sastra yang "koheren" dimana setiap unsurnya saling terkait dan saling menentukan dalam membentuk makna keseluruhan puisi. Oleh karena itu, selalu baca puisi secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong (Praba: 2003).
Secara garis besar puisi memiliki struktur, baik struktur fisik maupun batin. struktur fisik dan struktur batin puisi sebagai berikut.
1. Menurut Pradopo (2007), Struktur fisik puisi meliputi:
1) Diksi
2) Pencitraan
3) Kata konkret
4) Majas
5) Bunyi yang menghasilkan rima dan ritma
2. Menurut Pradopo (2007), Struktur batin puisi meliputi:
1) Perasaan
2) Tema
3) Nada
4) Amanat
3. Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda. Semiotik mengacu pada dua istilah kunci, yaitu penanda atau ‘yang menandai’ (signifier) dan petanda atau ‘yang ditanda’ (signified). Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis, sedangkan petanda adalah konsep. Adapun hubungan antara imaji dan konsep itulah yang disebut tanda (Ali Imron, 2009: 146).
Peirce (dalam Ali Imron, 2009: 146) membedakan tiga kelompok tanda, yaitu: (1) Ikon (ikon) adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya, misalny kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya. (2) Indeks (index) adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya, misalnya asap merupakan tanda adanya api. (3) Simbol (syombol) adalah hubungan atara hal atau suatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat. Misalnya janur kuning merupakan tanda ada pernikahan sepasang manusia.
BAB III
HASIL ANALISIS
A. MATA PISAU
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
Kau yang baru saja mengasahnya
Berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
Yang tersedia di atas meja
Sehabis makan malam;
Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
1. ANALISIS
a. Parafrase
MATA PISAU
(Sapardi Djoko Damono)
Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;//
(sehingga) kau yang baru saja mengasahnya /
berpikir : // (bahwa) ia (pisau itu) tajam untuk mengiris apel /
yang (sudah) tersedia di atas meja /
(Hal) (itu) (akan) (kau) (lakukan) sehabis makan malam //
ia (pisau itu) berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu //
b. Makna dan Konotasi puisi
pisau : sesuatu yang memiliki dua sisi, bisa dimanfaatkan
untuk hal-hal yang positif, bisa pula disalahgunakan sehingga menghasilkan sesuatu yang buruk, jahat, dan mengerikan.
apel : sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Terbayang olehnya urat lehermu : Sesuatu yang mengerikan.
c. Menceritakan Kembali Puisi
Seseorang terobsesi oleh kilauan mata pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!
Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel), namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).
d. Unsur Intrinsik
1) Tema
Gagasan utama penulis yang dituangkan dalam karangannya
Sesuatu hal dapat digunakan untuk kebaikan (bersifat positif), tetapi sering juga disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Contoh : anggota tubuh, kecerdasan, ilmu dan teknologi, kekuasaan dll.
2) Amanat
Pesan moral yang ingin disampaikan penulis melalui karangannya Hendaknya kita memanfaatkan segala hal yang kita miliki untuk tujuan positif supaya hidup kita punya makna
3) Nada
Tone yang dipakai penulis dalam mengungkapkan pokok pikiran.
Nada puisi “Mata Pisau” cenderung datar, tidak nampak luapan emosi penyairnya.
4) Filling
Perasaan/sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisi.
B. PAGI
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Ketika anginnya pagi tiba kita seketika tak ada
Di mana saja bayang-bayang gema
Cinta kita
Yang semalam sibuk menerka-nerka
Diantara meja, kursi dan jendela? kamar
Berkabut setiap kita berada,
Jam-jam terdiam
Sampai kita gaib begitu saja. Ketika angin
Pagi tak terdengar “Di mana kita?-
Masing-masing mulai kembali berkelana
Cinta yang menyusur jejak cinta
Yang pada kita tak habis-habisnya menerka
1. Analisis Puisi
a. Membuat atau menafsirkan berdasarkan lariknya atau parafrase
Dimana saja angin pagi tiba kita seketika tak ada
Dimana saja bayang bayang gema cinta kita sibuk menerka
Diantara meja,kursi,dan jendela
Kamar berkabut saat kita berada
Jam terdiam sampai gaib begitu saja
Ketika angin pagi tiba tak terdengar
Masing-masing kembali berkelana
Menyusuri jejak cinta
Yang pada kita tak habis-habisnya menerka
b. Makna dan Konotasi Puisi
1) Makana
• Pagi : bagian awal dari hari.
• Pagi : waktu setelah matahari terbit hingga menjelang siang hari
Dari proyeksi kata pagi diatas menarik satu hipotesis yang berbunyi “bahwa kata pagi mengandung makna sesuatu yang muncul setiap hari”.
2) Menafsirkan makna simbolik
• Pagi tiba : harri berawal kembali
• Bayang-bayang : sesuatu yang tak nyata
• Menerka-nerka : mrlakukan sesuatu
• Berkabut : tersaput kabut atau tidak nyata
• Gaib : tidak kelihatan
• Jejak : bekas
• Gema :bunyi atau suara yang memantul
• Kelana : megadakan perjalanan tampa tujuan
3) Memberi gambaran secara umum puisi yang berjudul pagi
Di dalam puisi ini penyair menggambarkan seseorang yang menjalin cinta .dimana mereka berada cinta selalu membayangi mereka. Setiap malam sibuk menerka-nerka.ketika pagi tiba mereka mulai berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
c. Unsur Intrinsik
1) pembuktian kebenaran dari langkah-langkah sebelumnya
• Kata yang termasuk lambang
-ketika -pagi
-kita -yang
-meja -setiap
-jendela -kembali
-kursi -mulai
• Kata yang termasuk simbol
-menerka
-gema
-berkelana
-gaib
-jejak
2) Mencari pokok pikiran
• Pokok pikiran 1
Dimana angin pagi tiba bayang-bayang gema cinta sibuk menerka.
• Pokok pikiran 2
Saat kita tidak ada,meja kursi, dan jendela kamar berkabut jam dinding sampai gaib begitu saja.
• Pokok pikiran 3
Ketika angin pagi tak terdengar mereka kembali berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
3) Melihat sikap penyair terhadap pokok pikiran
Di dalam puisi ini sikap penyair terhadap pokok pikiran adalah terlihat pada alenia terakir yaitu penyair mempunyai satu sikap yaitu tidak pantang menyerah.
4) Melihat sikap penyair terhadap pembaca
Sikap penyair dalam puisi ini adalah penyair mempunyai sikap masa bodoh terhadap pembaca.
5) Amanat
Pesan moral yang akan disampaikan oleh seorang penyair dalam puisi ini yaitu bahwa cinta dan pagi datangnya secara tiba-tiba tanpa kita sadari. Ketika cinta datang tanpa kita sadari kita merasakan getaran cinta desetiap waktu. Ketika pagi datang disaat kita tidur, disaat kita bangun pagi hari sudah menyambut. Artinya segala sesuatu adalah dibawah kekuasaan yang Maha Kuasa.
6) Menentukan tema puisi
Tema puisi yang berjudul pagi ini adalah hanya dengan semangat seseorang bisa menyusur jejak cinta.
BAB IV
PENUTUP
Seseorang terobsesi oleh kilauan Mata Pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!
Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel), namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).
Dari proyeksi kata pagi diatas menarik satu hipotesis yang berbunyi “bahwa kata pagi mengandung makna sesuatu yang muncul setiap hari”. Di dalam puisi ini penyair menggambarkan seseorang yang menjalin cinta .dimana mereka berada cinta selalu membayangi mereka .setiap malam sibuk menerka-nerka.ketika pagi tiba mereka mulai berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya, sehingga kreatifitas sastra harus mampu melahirkan kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia (Semi, 1988: 8). Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni dan ada lagi yang menyebut sebagai suatu karya, fiksi, puisi, drama, cerpen, dan lain-lain. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1990: 3).
Ratna (2004: 60) menyatakan bahwa pada dasarnya antara sastra dengan masyarakat terdapat hubungan yang hakiki. Hubungan-hubungan yang dimaksud disebabkan oleh (a) karya sastra oleh pengarang, (b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan, (d) hasil karya itu dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Puisi sebagai salah satu jenis sastra yang merupakan pernyataan sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesastraan mengental dalam puisi. Oleh karena itu puisi daru dahulu hingga sekarangpernyataan seni sastra yang paling baku. Membaca merupakan sebuah kenikmatan yang khusus, bahkan merupakan puncah kenikmatan seni sastra. Oleh karena itu sastra dari dahulu hingga sekarang puisi selalu diciptakan orang dan selalu dibaca , dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan seninya dan nilai kejiwaannya yang tinggi. Dari dahulu hingga sekarang, puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu ke waktu selalu meninggkat, maka, corak sikap, dan bentuk puisipun selalu berubah, mengikuti perkambangan selera, konsep estetik yang selalu berubah, dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat.
B. Perumusan Masalah
Dari penelitian terapat beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Apa makna yang terkandung dalam puisi MATA PISAU dan PAGI?
2. Struktur apa yang digunakan dalam puisi MATA PISAU dan PAGI?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan makna apa yang terkandung dalam puisi MATA PISAU dan PAGI.
2. Untuk mengetahui cara menganalisis struktur yang digunakan dalam puisi MATA PISAU dan PAGI.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter menurut Tarigan (dalam Ahmad: 2008) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa.
Herman J. Waluyo (dalam Kasandika: 2008) mendefinisikan bahwa Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Membaca puisi pada dasarnya merupakan usaha melakukan kontak lahir batin dengan puisi tersebut. Pembaca puisi perlu bergulat dengan segala kemampuan, pikiran, pengalaman dan perasaan terhadap puisi yang dibaca agar dapat menangkap segala makna dalam puisi. Mengapa hal tersebut diperlukan? Karena banyak puisi yang bersifat "menyembunyikan makna" dibalik baris-baris kata dan bait.
Dari sudut pandang bahasa, secara konvensional bahasa memiliki konsep Dwi-Tunggal: bentuk dan arti. Kata tertentu memiliki arti tertentu secara harfiah. Namun kata-kata yang digunakan pada puisi mengandung arti "tambahan" dengan memanipulasi bahasa dan memanfaatkan potensi yang ada pada bahasa. Kata-kata didalam puisi dapat membawa arti yang "ambiguous" dan dapat terjadi multiinterpretasi pada puisi yang sama (puisi dapat diinterpretasikan lebih dari satumacam). Menganalisis puisi berarti berusaha mengambil atau menemukan arti biasa maupun arti "tambahan" yang dikandung puisi tersebut. Disamping memahami arti atau makna puisi, kegiatan analisis juga berusaha untuk melihat struktur/ unsur-unsur puisi.
2. Unsur-unsur Puisi
Unsur-unsur puisi menurut Praba (2003) adalah segala sesuatu yang berperan membentuk/ membangun puisi menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur puisi dapat terdiri dari: bunyi, imaji, kiasan, tipografi, diksi, baris, bait, manipulasi tatabahasa dan lain-lain
Pendekatan struktur puisi agar dapat memahami puisi dengan baik, kita dapat berpegang pada prinsip berikut: Makna unsur-unsur puisi membentuk makna keseluruhan puisi. Makna unsur-unsur puisi dicari dengan terlebih dahulu mengandaikan makna keseluruhan puisi. Keberadaan suatu unsur puisi ditentukan oleh adanya unsur lainnya. Oleh karena itu, seluruh unsur-unsur puisi tidak membentuk makna sendiri-sendiri secara lepas tetapi secara bersama membentuk makna keseluruhan puisi. Maka puisi dikatakan sebagai karya sastra yang "koheren" dimana setiap unsurnya saling terkait dan saling menentukan dalam membentuk makna keseluruhan puisi. Oleh karena itu, selalu baca puisi secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong (Praba: 2003).
Secara garis besar puisi memiliki struktur, baik struktur fisik maupun batin. struktur fisik dan struktur batin puisi sebagai berikut.
1. Menurut Pradopo (2007), Struktur fisik puisi meliputi:
1) Diksi
2) Pencitraan
3) Kata konkret
4) Majas
5) Bunyi yang menghasilkan rima dan ritma
2. Menurut Pradopo (2007), Struktur batin puisi meliputi:
1) Perasaan
2) Tema
3) Nada
4) Amanat
3. Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda. Semiotik mengacu pada dua istilah kunci, yaitu penanda atau ‘yang menandai’ (signifier) dan petanda atau ‘yang ditanda’ (signified). Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis, sedangkan petanda adalah konsep. Adapun hubungan antara imaji dan konsep itulah yang disebut tanda (Ali Imron, 2009: 146).
Peirce (dalam Ali Imron, 2009: 146) membedakan tiga kelompok tanda, yaitu: (1) Ikon (ikon) adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya, misalny kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya. (2) Indeks (index) adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya, misalnya asap merupakan tanda adanya api. (3) Simbol (syombol) adalah hubungan atara hal atau suatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat. Misalnya janur kuning merupakan tanda ada pernikahan sepasang manusia.
BAB III
HASIL ANALISIS
A. MATA PISAU
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
Kau yang baru saja mengasahnya
Berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
Yang tersedia di atas meja
Sehabis makan malam;
Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
1. ANALISIS
a. Parafrase
MATA PISAU
(Sapardi Djoko Damono)
Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;//
(sehingga) kau yang baru saja mengasahnya /
berpikir : // (bahwa) ia (pisau itu) tajam untuk mengiris apel /
yang (sudah) tersedia di atas meja /
(Hal) (itu) (akan) (kau) (lakukan) sehabis makan malam //
ia (pisau itu) berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu //
b. Makna dan Konotasi puisi
pisau : sesuatu yang memiliki dua sisi, bisa dimanfaatkan
untuk hal-hal yang positif, bisa pula disalahgunakan sehingga menghasilkan sesuatu yang buruk, jahat, dan mengerikan.
apel : sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Terbayang olehnya urat lehermu : Sesuatu yang mengerikan.
c. Menceritakan Kembali Puisi
Seseorang terobsesi oleh kilauan mata pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!
Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel), namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).
d. Unsur Intrinsik
1) Tema
Gagasan utama penulis yang dituangkan dalam karangannya
Sesuatu hal dapat digunakan untuk kebaikan (bersifat positif), tetapi sering juga disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Contoh : anggota tubuh, kecerdasan, ilmu dan teknologi, kekuasaan dll.
2) Amanat
Pesan moral yang ingin disampaikan penulis melalui karangannya Hendaknya kita memanfaatkan segala hal yang kita miliki untuk tujuan positif supaya hidup kita punya makna
3) Nada
Tone yang dipakai penulis dalam mengungkapkan pokok pikiran.
Nada puisi “Mata Pisau” cenderung datar, tidak nampak luapan emosi penyairnya.
4) Filling
Perasaan/sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisi.
B. PAGI
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Ketika anginnya pagi tiba kita seketika tak ada
Di mana saja bayang-bayang gema
Cinta kita
Yang semalam sibuk menerka-nerka
Diantara meja, kursi dan jendela? kamar
Berkabut setiap kita berada,
Jam-jam terdiam
Sampai kita gaib begitu saja. Ketika angin
Pagi tak terdengar “Di mana kita?-
Masing-masing mulai kembali berkelana
Cinta yang menyusur jejak cinta
Yang pada kita tak habis-habisnya menerka
1. Analisis Puisi
a. Membuat atau menafsirkan berdasarkan lariknya atau parafrase
Dimana saja angin pagi tiba kita seketika tak ada
Dimana saja bayang bayang gema cinta kita sibuk menerka
Diantara meja,kursi,dan jendela
Kamar berkabut saat kita berada
Jam terdiam sampai gaib begitu saja
Ketika angin pagi tiba tak terdengar
Masing-masing kembali berkelana
Menyusuri jejak cinta
Yang pada kita tak habis-habisnya menerka
b. Makna dan Konotasi Puisi
1) Makana
• Pagi : bagian awal dari hari.
• Pagi : waktu setelah matahari terbit hingga menjelang siang hari
Dari proyeksi kata pagi diatas menarik satu hipotesis yang berbunyi “bahwa kata pagi mengandung makna sesuatu yang muncul setiap hari”.
2) Menafsirkan makna simbolik
• Pagi tiba : harri berawal kembali
• Bayang-bayang : sesuatu yang tak nyata
• Menerka-nerka : mrlakukan sesuatu
• Berkabut : tersaput kabut atau tidak nyata
• Gaib : tidak kelihatan
• Jejak : bekas
• Gema :bunyi atau suara yang memantul
• Kelana : megadakan perjalanan tampa tujuan
3) Memberi gambaran secara umum puisi yang berjudul pagi
Di dalam puisi ini penyair menggambarkan seseorang yang menjalin cinta .dimana mereka berada cinta selalu membayangi mereka. Setiap malam sibuk menerka-nerka.ketika pagi tiba mereka mulai berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
c. Unsur Intrinsik
1) pembuktian kebenaran dari langkah-langkah sebelumnya
• Kata yang termasuk lambang
-ketika -pagi
-kita -yang
-meja -setiap
-jendela -kembali
-kursi -mulai
• Kata yang termasuk simbol
-menerka
-gema
-berkelana
-gaib
-jejak
2) Mencari pokok pikiran
• Pokok pikiran 1
Dimana angin pagi tiba bayang-bayang gema cinta sibuk menerka.
• Pokok pikiran 2
Saat kita tidak ada,meja kursi, dan jendela kamar berkabut jam dinding sampai gaib begitu saja.
• Pokok pikiran 3
Ketika angin pagi tak terdengar mereka kembali berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
3) Melihat sikap penyair terhadap pokok pikiran
Di dalam puisi ini sikap penyair terhadap pokok pikiran adalah terlihat pada alenia terakir yaitu penyair mempunyai satu sikap yaitu tidak pantang menyerah.
4) Melihat sikap penyair terhadap pembaca
Sikap penyair dalam puisi ini adalah penyair mempunyai sikap masa bodoh terhadap pembaca.
5) Amanat
Pesan moral yang akan disampaikan oleh seorang penyair dalam puisi ini yaitu bahwa cinta dan pagi datangnya secara tiba-tiba tanpa kita sadari. Ketika cinta datang tanpa kita sadari kita merasakan getaran cinta desetiap waktu. Ketika pagi datang disaat kita tidur, disaat kita bangun pagi hari sudah menyambut. Artinya segala sesuatu adalah dibawah kekuasaan yang Maha Kuasa.
6) Menentukan tema puisi
Tema puisi yang berjudul pagi ini adalah hanya dengan semangat seseorang bisa menyusur jejak cinta.
BAB IV
PENUTUP
Seseorang terobsesi oleh kilauan Mata Pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!
Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel), namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).
Dari proyeksi kata pagi diatas menarik satu hipotesis yang berbunyi “bahwa kata pagi mengandung makna sesuatu yang muncul setiap hari”. Di dalam puisi ini penyair menggambarkan seseorang yang menjalin cinta .dimana mereka berada cinta selalu membayangi mereka .setiap malam sibuk menerka-nerka.ketika pagi tiba mereka mulai berkelana menyusuri jejak cinta yang selalu menerka.
LELAKI SEPI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya, sehingga kreatifitas sastra harus mampu melahirkan kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia (Semi, 1988: 8). Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni dan ada lagi yang menyebut sebagai suatu karya, fiksi, puisi, drama, cerpen, dan lain-lain. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1990: 3).
Ratna (2004: 60) menyatakan bahwa pada dasarnya antara sastra dengan masyarakat terdapat hubungan yang hakiki. Hubungan-hubungan yang dimaksud disebabkan oleh (a) karya sastra oleh pengarang, (b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan, (d) hasil karya itu dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen berjudul Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono.
B. Rumusan Masaalah
Berdasarkan latarbelakang terdapat beberapa permasalahan, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas?
2. Nilai-nilai apa yang dapat diambil dari cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas?
C. Tujuan
Agar penelitian ini terarah arus ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dalam penelitian ini yaitu :
1. Mendeskripsikan unsur intrinsik cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono.
2. Mendeskripsikan nilai-nilai yang dapat diambil dari cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas
D. Manfaat
Manfaat dalam penelitian ini yaitu :
1. Manfaat teoritis
a. Penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk mahasiswa yang akan melakukan penelitian berikutnya.
b. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang penelitian sastra yang mengangkat tentang nilai-nilai tercentu dalam sebuah cerpen.
2. Manfaat praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar atau rujukan dan pengembangan dan pemecahan dalam cerpen tersebut.
b. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada usaha pemecahan masalah, antara lain tentang pemahaman tentang pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Pengertian Cerpen
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
2. Hakikat Tema dan Karya Sastra
Sementara Sayuti (2000: 191), mengartikan tema sebagai makna yang dilepaskan atau makna yang ditemukan dalam suatu cerita. Tema merupakan implikasi yang penting bagi suatu cerita secara keseluruhan. Jika ditinjau dari kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema merupakan sesuatu yang diciptakan pengarang sehubungan dengan pengalaman total yang dinyatakannya.
Mengenai tema ini, Nurgiyantoro (1998: 74) mengemukakan bahwa kehadirannya tidak bisa lepas dari unsur cerita yang lain. Tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur cerita yang lainnya karena tema tidak mungkin disampaikan secara langsung.
3. Macam-Macam Tema
Tema dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria, yaitu berdasarkan penggolongan ditkhotomis yang terdiri dari tema tradisional dan nontradisional, berdasarkan tingkat pengalaman jiwa yang dikemukakan oleh shipley terdiri dari tema tingkat fisik, organil, sosial, egoik, tingkat divine, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya terdiri dari tema mayor dan tema minor (Nurgiyantoro, 2000: 77-83)
Tema tingkat fisik atau jasmani merupakan tema cenderung berkaitan dengan keadaan jasmani manusia. Tema jenis ini berkaitan dengan kenyataan manusia yang terdiri dari molekul, zat, dan jasad. Salah satu contoh tema jenis ini adalah tema percintaan. Tema organik diartikan sebagai tema tentang moral karena kelompok tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia yang wujudnya tentang hubungan antarmanusia. Tema sosial meliputi hal-hal yang berbeda di luar masalah pribadi, misalnya politik, pendidikan, dan propaganda. Tema egoik merupakan tema yang menyangkut reaksi-reaksi pribadi yang pada umumnya menentang pengaruh sosial. Tema ketuhanan atau divine merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan (Sayuti, 2000: 193-194).
Tema mayor dapat diartikan sebagai makna pokok yang menjadi gagasan dasar umum sebuah karya. Lain halnya dengan tema mayor, minor merupakan makna cerita yang hadir pada bagian-bagian tertentu yang diidentifikasi sebagai makna bagian atau tambahan (Nurgiyantoto, 2000: 82-83).
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian Dewi Budi Purwati (2002), yang berjudul Nilai-Nilai Akhlak dalam Cerpen-Cerpen Anak “Permata” Majalah Wanita Ummi Edisi 2002. Hasil penelitian ini yaitu wujud nilai akhlak ditinjau dari hubungan terhadap sesama (50,23%), diri sendiri (33,33%), Tuhan (15, 47%), dan lingkungan (0,97%). Jenis wujud nilai akhlak adalah akhlak mahmudah (baik) sebanyak 176 dan mazmumah (jelek) sebanyak 31. Teknik penyampaian yang digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung, yang lebih dominan penggunaannya adalah teknik tidak langsung.
BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
A. Sinopsis Cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono
Namanya tidah terlalu penting, engkau bebas memberi nama karena ini tidak berpengaruh. Yang jelas dia adalah lelaki yang tidak dapat membedakan antara cinta dan sepi. Ia meminta kekasihnya untuk selalu menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa dekapan kekasih disisihnya. Ia tak bisa tidur tanpa kekasihnya menyuapkan makana ke mulutnya. Ia tak bisa mandi tanpa kekasihnya menuangkan air hangat dan meniapkan handuk.
Lelaki itu ingin ditemani kekasihnya setiap malam, hingga menjelang pagi tiba, ia selalu ingin berada dalam rahim kekasihnya. Ia selalu berdoa keesokan harinya terbangun berada dalam rahim ibunya. Merasa nyaman berada dengan kekasihnya. Selamanya ingin dalam dekapan kekasihnya.
Ia laki-laki yang tidak dapat membedakan antara cinta dan sepi. Ia selalu menulis puisi cinta untuk kekasihnya. Ia berkata “selama aku mencintaimu aku akan selalu menulis puisi cinta untukmu. Namun wanita itu memang mencintainya. Cinta yang membuat wanita itu bertahan dengan itu semua. Dan cinta pullah yang membuat wanita itu meninggalkan laki-laki kita kini. Selau ada yang mesti dikorbankan atau iklas berkorban dalam cinta. Maka demikianlah wanita itu meninggalkan lelaki kita. Meninggalkan sendiri dalam sepi, meninggalkan sendiri untuk melawan sepi.
Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan ia melihat wajah bulan, wajah yang berbeda dengan wajah bilan pada malam-malam sebelumnya. Ia segera keluar menuju halaman dan sendirian sambil mendengak ke atas, ke arah bulan itu. Tapi bulan yang sempurna bundar mirip kekasihnya tak setiap hari bersinar. Pelan-pelan bulan akan mencekung menbentuk sabit untuk benar-benar hilang.
Namun bulan tak selalu purnama, ada putaran musim, aliran angin, ketinggian air laut, masa panen dan tanam, sampai waktu laku ilmu. Lelaki itu sungguh keras hati. Ia tak ingin lagi ditinggalkan kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu bertahan sembul dan ingin menjadi yang terakhir mengucap kata jumpa. Namun langit tak hanya menimpan wajah indah kekasihnya yang hilang atau kilai cemerlang bintang-bintang, langit juga mempunyai mendung dan hujan, kilat, dan badai, matahari dan cahaya panas. Tak ada yang mampu menghentikan mereka menjalankan tugas. Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak berjua wajah kekasihnya.
Ia telah lama bertahan berhari-hari, berminggu-minggu. Ia hanya masuk rumah untuk makan dan minum dengan tegesa dan buru-buru kembali ke halaman ia melihat kekasih yang meninggalkan dulu telah menjelma menjadi bulan. Bulan yang senantiuasa ia nanti. Bulan itu begitu dekat dengannya bahkan menyatu dengan dirinya. Terletak di hatinya, bulan itu berkata “kalu kau mencintaiku, kau akan tau bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekat tidurmu, meniapkan air hangatmu atai mengangsurkan suapanmu. Kau akan tau bahwa aku selalu bersamamu sebam aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah kemana-mana”.
Lelaki kita itu ingin bangun. Tapi tak bisa. Tubuhnya tak dapat bergerak. Maka ia putuskan untuk pergi tanpa tubuhnya. Pergi menuju hatinya yang menimpan bulan. Ia lihat tubuhnya telah begitu payah.
B. Tinjauan atas Unsur Intrinsik
1. Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Lelaki Sepi, terletak pada seorang tokoh Lelaki dalam cerpen tersebut. Berikut gambaran tema Lelaki Sepi oleh seorang tokok Lelaki.
“Yang jelas, ia adalah lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Maka begitulah ia selalu senantiasa meminta kekasihnya untuk menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa ada dekap kekasihnya. Ia tak mampu menelan makanannya tanpa kekasihnya mengangsurkan suap. Ia tak sanggup mandi bila kekasihnya tak menuangkan air hangat dan meniapkan handuk. Ia tak dapat keluar rumah jika kekasihnya tak menjemput. Ia ingin senantiasa bersama kekasihnya. Setiap malam, sebelum benar-benar lelap dalam buaian kekasihnya, ................”.
Kemudian gambaran itu ditegaskan kembali, yaitu :
“Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa meniksanya dengan kenangan, ia melihat wajah bulan. Wajag yang berbeda dengan wajah bulann dengan malam-malam sebelumnya. Wajah yang tegantung dilangit itu serupa benar dengan wajah kekasih yang meninggalkannya”.
Kemudian gambaran itu ditegaskan kembali, yaitu :
“Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak berjua wajah kekasihnya”.
Jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang lelaki yang kesepian ditinggalkan kekasih hatinya dan kesepian dalam menanti bulan purnama yang telah ia anggap sebagai penganti kekasih yang telah meninggalkannya.
2. Amanat
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Kesetiaan seorang tokoh Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi.
“kalu kau mencintaiku, kau akan tau bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekat tidurmu, meniapkan air hangatmu atai mengangsurkan suapanmu. Kau akan tau bahwa aku selalu bersamamu sebam aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah kemana-mana”.
Ucapan tokoh Lelaki itu jelas tegambar adanya kesetiaan yang mendalam kepada kekasihnya.
b. Jangan Sombong
“Ia menganggap telah sempurna mencintai kekasihnya dan berharap kekasihnya meklakukan hal serupa, mencintai dengan sempurna pula”.
Berdasarkan gambaran kutipan cerpen di atas, tokoh lelaki kita mempunyai sifat yang sombong, ia menganggap bahwa hanua dial ah yang paling sempurna mencintai kekasihnya.
c. Jangan Putus Asa dan Manja
Berikut ini gambaran atau kutipan cerpen dia tas.
“Maka kini lelaki kita sendirian. Merasa kesepian. Tak ada lagi yang membenarkan selimut yang mlorot ketika ia tidur. Taka ada yang yang mengambilkan nasi atau menjarang air buat mandinya. Tak ada senyum yang menemaninya menulis puisi, tak ada sorot lembut menatapnya. Tidak ada semua yang selama ini yang membuatnya kuat. Ia merasa payah, merasa tak sanggup lagi melangkah”.
Berdasarka potongan cerpen di atas, took lelaki kita ini, ia memiliki sifat yang suka mengeluh, putus asa, dan manja. Maka dapat disimpulkan marilah kita jangan meniru tokok lelaki kita itu.
d. Jangan keras kepala
“lelaki kita ini memang keras hati ini. Ia tak ingin ditinggal lagi kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu berlahan sembul dan ingin menjadi yang terkhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup”.
Tokoh yang diperankan olek Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi mencerminkan seorang yang keras kepala atau keras hati. Maka watak seperti itu adalah sifat yang tidak baik, ada segi posotif dan negatig tergantung pada situasi dan kondisi.
3. Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
a. Latar Tempat
Latar tempat dalam cerpen Lelaki Sepi terdapat di halaman dan rumah. Berikut gambaran latar tempat dalam cerpen Lelaki Sepi.
“Ia telah bertahan. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ia hany masuk ke rumah untuk makan dan minum dengan tergesa-gesa dan buru-buru kembali ke halaman.tapi tidak kali ini. Tiga malam dihajar badai, dan tiga hari digempur panas yang sangant. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi”.
b. Latar Waktu
Latar waktu dalam cerpen Lelaki Sepi terjadi pada waktu malam dan siang hari. Berikut ini latar waktu yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi.
“Tiga malam dihajar badai, dan tiga hari digempur panas yang sangant. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi”.
Berikut gambaran latar waktu selanjutnya.
“Namun pada siang harinya matahari bersinar teramat cerah. Mendadak panas yang meniksa. Kejadian seperti ini terjadi ketika pada tengah bulan hitungan jawa”.
Gambaran latar waktu berikutnya.
“Namun langit cerah ketika pagi telah sepenggalan dan bulan tak laki terlihat”.
C. Nilai Psikologis
Cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono memiliki nilai-nilai yang terkandung. Nilai psikologis terdapat di dalam cerpen Lelaki Sepi ini. Berikut ini adalah gambaran nilai psikologis di dalam cerpen karya Dadang Ari Murtono.
“Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan ia melihat wajah bulan, wajah yang berbeda dengan wajah bilan pada malam-malam sebelumnya. Ia segera keluar menuju halaman dan sendirian sambil mendengak ke atas, ke arah bulan itu. Tiba-tiba lelaki kita ini ingin menulis sajak cinta lagi”.
Dari gambaran kutipan cerpen di atas mencerminkan tentang psikkollogis seorang tokoh Lelaki. Lelaki itu setelah di tinggal kekasihnya pergi, ia merasa kesepian dan tidah mempunyai semangan untuk menjalani hidup. Tetapi, ia sekarang telah menemukan kembali kekasih hatinya, yang memberikannya semangat untuk menulis sajak cinta. Kekasihnya sekarang yaitu bulan purnama yang mengingatkannya pada kekasih yang telah meninggalkannya.
D. Nilai Kepribadian
Di dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono, dengan tokoh utama Lelaki memiliki nilai kepribadian. Berikut ini gambaran nilai kepribadian dalam cerpen Lelaki Sepi
“lelaki kita ini memang keras hati ini. Ia tak ingin ditinggal lagi kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu berlahan sembul dan ingin menjadi yang terkhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup”
Berdasarkan potongan cerpen Lelaki Sepi di atas mencerminkan seorang tokoh yang memiliki nilai kepribadian yang sangat ulet. Ia memiliki keyakinan dan pendirian yang sangat kuat dan ia teguh terhadap pendiriannya. Ia juga memiliki kepribadian yang sangat rajin dalam membuat sajak-sajak cinta. Buktinya sudah banyak karya yang sudah di ciptakannya terutama sajak cinta.
E. Nilai Religi
Di dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono memiliki nilai sosial yang dapat diambil. Berikut ini gambaran tentang nilai religi seorang tokoh Lelaki.
“Ia juga sering berdoa, “bila aku tak dapat tinggal di rahimnya, izinkan aku menjadi sebait puisi yang ia sukai, yang ia hafal, yang sering ia lantunkan,. Aku ingin tinggal di lidahnya menjadi sesuatu yang ia sebut.” Ia menyangka tidak ada cara lebig tepat menunjukkannya selain melalui puisi”.
Berdasarkan penggalan cerpen di atas, lelaki kita ini mempunyai nilai religi yang sangat tinggi. Buktinya dia rajin berdoa memohon kepada yang kuasa.
BAB IV
PENUTUP
1. Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.Tema atau pokok persoalan cerpen Lelaki Sepi, terletak pada seorang tokoh Lelaki dalam cerpen tersebut. Berikut gambaran tema Lelaki Sepi oleh seorang tokok Lelaki.
2. Amanat
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Kesetiaan seorang tokoh Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi.
b. Jangan Sombong
c. Jangan Putus Asa dan Manja
d. Jangan keras kepala
3. Latar
c. Latar Tempat
d. Latar Waktu
4. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang berjudul Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Nilai Psikologis
b. Nilai Kepribadian
c. Nilai Religi
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya, sehingga kreatifitas sastra harus mampu melahirkan kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia (Semi, 1988: 8). Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni dan ada lagi yang menyebut sebagai suatu karya, fiksi, puisi, drama, cerpen, dan lain-lain. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1990: 3).
Ratna (2004: 60) menyatakan bahwa pada dasarnya antara sastra dengan masyarakat terdapat hubungan yang hakiki. Hubungan-hubungan yang dimaksud disebabkan oleh (a) karya sastra oleh pengarang, (b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan, (d) hasil karya itu dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen berjudul Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono.
B. Rumusan Masaalah
Berdasarkan latarbelakang terdapat beberapa permasalahan, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas?
2. Nilai-nilai apa yang dapat diambil dari cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas?
C. Tujuan
Agar penelitian ini terarah arus ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dalam penelitian ini yaitu :
1. Mendeskripsikan unsur intrinsik cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono.
2. Mendeskripsikan nilai-nilai yang dapat diambil dari cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono dalam surat kabar harian kompas
D. Manfaat
Manfaat dalam penelitian ini yaitu :
1. Manfaat teoritis
a. Penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk mahasiswa yang akan melakukan penelitian berikutnya.
b. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang penelitian sastra yang mengangkat tentang nilai-nilai tercentu dalam sebuah cerpen.
2. Manfaat praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar atau rujukan dan pengembangan dan pemecahan dalam cerpen tersebut.
b. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada usaha pemecahan masalah, antara lain tentang pemahaman tentang pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Pengertian Cerpen
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
2. Hakikat Tema dan Karya Sastra
Sementara Sayuti (2000: 191), mengartikan tema sebagai makna yang dilepaskan atau makna yang ditemukan dalam suatu cerita. Tema merupakan implikasi yang penting bagi suatu cerita secara keseluruhan. Jika ditinjau dari kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema merupakan sesuatu yang diciptakan pengarang sehubungan dengan pengalaman total yang dinyatakannya.
Mengenai tema ini, Nurgiyantoro (1998: 74) mengemukakan bahwa kehadirannya tidak bisa lepas dari unsur cerita yang lain. Tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur cerita yang lainnya karena tema tidak mungkin disampaikan secara langsung.
3. Macam-Macam Tema
Tema dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria, yaitu berdasarkan penggolongan ditkhotomis yang terdiri dari tema tradisional dan nontradisional, berdasarkan tingkat pengalaman jiwa yang dikemukakan oleh shipley terdiri dari tema tingkat fisik, organil, sosial, egoik, tingkat divine, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya terdiri dari tema mayor dan tema minor (Nurgiyantoro, 2000: 77-83)
Tema tingkat fisik atau jasmani merupakan tema cenderung berkaitan dengan keadaan jasmani manusia. Tema jenis ini berkaitan dengan kenyataan manusia yang terdiri dari molekul, zat, dan jasad. Salah satu contoh tema jenis ini adalah tema percintaan. Tema organik diartikan sebagai tema tentang moral karena kelompok tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia yang wujudnya tentang hubungan antarmanusia. Tema sosial meliputi hal-hal yang berbeda di luar masalah pribadi, misalnya politik, pendidikan, dan propaganda. Tema egoik merupakan tema yang menyangkut reaksi-reaksi pribadi yang pada umumnya menentang pengaruh sosial. Tema ketuhanan atau divine merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan (Sayuti, 2000: 193-194).
Tema mayor dapat diartikan sebagai makna pokok yang menjadi gagasan dasar umum sebuah karya. Lain halnya dengan tema mayor, minor merupakan makna cerita yang hadir pada bagian-bagian tertentu yang diidentifikasi sebagai makna bagian atau tambahan (Nurgiyantoto, 2000: 82-83).
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian Dewi Budi Purwati (2002), yang berjudul Nilai-Nilai Akhlak dalam Cerpen-Cerpen Anak “Permata” Majalah Wanita Ummi Edisi 2002. Hasil penelitian ini yaitu wujud nilai akhlak ditinjau dari hubungan terhadap sesama (50,23%), diri sendiri (33,33%), Tuhan (15, 47%), dan lingkungan (0,97%). Jenis wujud nilai akhlak adalah akhlak mahmudah (baik) sebanyak 176 dan mazmumah (jelek) sebanyak 31. Teknik penyampaian yang digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung, yang lebih dominan penggunaannya adalah teknik tidak langsung.
BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
A. Sinopsis Cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono
Namanya tidah terlalu penting, engkau bebas memberi nama karena ini tidak berpengaruh. Yang jelas dia adalah lelaki yang tidak dapat membedakan antara cinta dan sepi. Ia meminta kekasihnya untuk selalu menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa dekapan kekasih disisihnya. Ia tak bisa tidur tanpa kekasihnya menyuapkan makana ke mulutnya. Ia tak bisa mandi tanpa kekasihnya menuangkan air hangat dan meniapkan handuk.
Lelaki itu ingin ditemani kekasihnya setiap malam, hingga menjelang pagi tiba, ia selalu ingin berada dalam rahim kekasihnya. Ia selalu berdoa keesokan harinya terbangun berada dalam rahim ibunya. Merasa nyaman berada dengan kekasihnya. Selamanya ingin dalam dekapan kekasihnya.
Ia laki-laki yang tidak dapat membedakan antara cinta dan sepi. Ia selalu menulis puisi cinta untuk kekasihnya. Ia berkata “selama aku mencintaimu aku akan selalu menulis puisi cinta untukmu. Namun wanita itu memang mencintainya. Cinta yang membuat wanita itu bertahan dengan itu semua. Dan cinta pullah yang membuat wanita itu meninggalkan laki-laki kita kini. Selau ada yang mesti dikorbankan atau iklas berkorban dalam cinta. Maka demikianlah wanita itu meninggalkan lelaki kita. Meninggalkan sendiri dalam sepi, meninggalkan sendiri untuk melawan sepi.
Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan ia melihat wajah bulan, wajah yang berbeda dengan wajah bilan pada malam-malam sebelumnya. Ia segera keluar menuju halaman dan sendirian sambil mendengak ke atas, ke arah bulan itu. Tapi bulan yang sempurna bundar mirip kekasihnya tak setiap hari bersinar. Pelan-pelan bulan akan mencekung menbentuk sabit untuk benar-benar hilang.
Namun bulan tak selalu purnama, ada putaran musim, aliran angin, ketinggian air laut, masa panen dan tanam, sampai waktu laku ilmu. Lelaki itu sungguh keras hati. Ia tak ingin lagi ditinggalkan kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu bertahan sembul dan ingin menjadi yang terakhir mengucap kata jumpa. Namun langit tak hanya menimpan wajah indah kekasihnya yang hilang atau kilai cemerlang bintang-bintang, langit juga mempunyai mendung dan hujan, kilat, dan badai, matahari dan cahaya panas. Tak ada yang mampu menghentikan mereka menjalankan tugas. Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak berjua wajah kekasihnya.
Ia telah lama bertahan berhari-hari, berminggu-minggu. Ia hanya masuk rumah untuk makan dan minum dengan tegesa dan buru-buru kembali ke halaman ia melihat kekasih yang meninggalkan dulu telah menjelma menjadi bulan. Bulan yang senantiuasa ia nanti. Bulan itu begitu dekat dengannya bahkan menyatu dengan dirinya. Terletak di hatinya, bulan itu berkata “kalu kau mencintaiku, kau akan tau bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekat tidurmu, meniapkan air hangatmu atai mengangsurkan suapanmu. Kau akan tau bahwa aku selalu bersamamu sebam aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah kemana-mana”.
Lelaki kita itu ingin bangun. Tapi tak bisa. Tubuhnya tak dapat bergerak. Maka ia putuskan untuk pergi tanpa tubuhnya. Pergi menuju hatinya yang menimpan bulan. Ia lihat tubuhnya telah begitu payah.
B. Tinjauan atas Unsur Intrinsik
1. Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen Lelaki Sepi, terletak pada seorang tokoh Lelaki dalam cerpen tersebut. Berikut gambaran tema Lelaki Sepi oleh seorang tokok Lelaki.
“Yang jelas, ia adalah lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Maka begitulah ia selalu senantiasa meminta kekasihnya untuk menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa ada dekap kekasihnya. Ia tak mampu menelan makanannya tanpa kekasihnya mengangsurkan suap. Ia tak sanggup mandi bila kekasihnya tak menuangkan air hangat dan meniapkan handuk. Ia tak dapat keluar rumah jika kekasihnya tak menjemput. Ia ingin senantiasa bersama kekasihnya. Setiap malam, sebelum benar-benar lelap dalam buaian kekasihnya, ................”.
Kemudian gambaran itu ditegaskan kembali, yaitu :
“Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa meniksanya dengan kenangan, ia melihat wajah bulan. Wajag yang berbeda dengan wajah bulann dengan malam-malam sebelumnya. Wajah yang tegantung dilangit itu serupa benar dengan wajah kekasih yang meninggalkannya”.
Kemudian gambaran itu ditegaskan kembali, yaitu :
“Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak berjua wajah kekasihnya”.
Jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang lelaki yang kesepian ditinggalkan kekasih hatinya dan kesepian dalam menanti bulan purnama yang telah ia anggap sebagai penganti kekasih yang telah meninggalkannya.
2. Amanat
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Kesetiaan seorang tokoh Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi.
“kalu kau mencintaiku, kau akan tau bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekat tidurmu, meniapkan air hangatmu atai mengangsurkan suapanmu. Kau akan tau bahwa aku selalu bersamamu sebam aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah kemana-mana”.
Ucapan tokoh Lelaki itu jelas tegambar adanya kesetiaan yang mendalam kepada kekasihnya.
b. Jangan Sombong
“Ia menganggap telah sempurna mencintai kekasihnya dan berharap kekasihnya meklakukan hal serupa, mencintai dengan sempurna pula”.
Berdasarkan gambaran kutipan cerpen di atas, tokoh lelaki kita mempunyai sifat yang sombong, ia menganggap bahwa hanua dial ah yang paling sempurna mencintai kekasihnya.
c. Jangan Putus Asa dan Manja
Berikut ini gambaran atau kutipan cerpen dia tas.
“Maka kini lelaki kita sendirian. Merasa kesepian. Tak ada lagi yang membenarkan selimut yang mlorot ketika ia tidur. Taka ada yang yang mengambilkan nasi atau menjarang air buat mandinya. Tak ada senyum yang menemaninya menulis puisi, tak ada sorot lembut menatapnya. Tidak ada semua yang selama ini yang membuatnya kuat. Ia merasa payah, merasa tak sanggup lagi melangkah”.
Berdasarka potongan cerpen di atas, took lelaki kita ini, ia memiliki sifat yang suka mengeluh, putus asa, dan manja. Maka dapat disimpulkan marilah kita jangan meniru tokok lelaki kita itu.
d. Jangan keras kepala
“lelaki kita ini memang keras hati ini. Ia tak ingin ditinggal lagi kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu berlahan sembul dan ingin menjadi yang terkhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup”.
Tokoh yang diperankan olek Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi mencerminkan seorang yang keras kepala atau keras hati. Maka watak seperti itu adalah sifat yang tidak baik, ada segi posotif dan negatig tergantung pada situasi dan kondisi.
3. Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
a. Latar Tempat
Latar tempat dalam cerpen Lelaki Sepi terdapat di halaman dan rumah. Berikut gambaran latar tempat dalam cerpen Lelaki Sepi.
“Ia telah bertahan. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ia hany masuk ke rumah untuk makan dan minum dengan tergesa-gesa dan buru-buru kembali ke halaman.tapi tidak kali ini. Tiga malam dihajar badai, dan tiga hari digempur panas yang sangant. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi”.
b. Latar Waktu
Latar waktu dalam cerpen Lelaki Sepi terjadi pada waktu malam dan siang hari. Berikut ini latar waktu yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi.
“Tiga malam dihajar badai, dan tiga hari digempur panas yang sangant. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi”.
Berikut gambaran latar waktu selanjutnya.
“Namun pada siang harinya matahari bersinar teramat cerah. Mendadak panas yang meniksa. Kejadian seperti ini terjadi ketika pada tengah bulan hitungan jawa”.
Gambaran latar waktu berikutnya.
“Namun langit cerah ketika pagi telah sepenggalan dan bulan tak laki terlihat”.
C. Nilai Psikologis
Cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono memiliki nilai-nilai yang terkandung. Nilai psikologis terdapat di dalam cerpen Lelaki Sepi ini. Berikut ini adalah gambaran nilai psikologis di dalam cerpen karya Dadang Ari Murtono.
“Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan ia melihat wajah bulan, wajah yang berbeda dengan wajah bilan pada malam-malam sebelumnya. Ia segera keluar menuju halaman dan sendirian sambil mendengak ke atas, ke arah bulan itu. Tiba-tiba lelaki kita ini ingin menulis sajak cinta lagi”.
Dari gambaran kutipan cerpen di atas mencerminkan tentang psikkollogis seorang tokoh Lelaki. Lelaki itu setelah di tinggal kekasihnya pergi, ia merasa kesepian dan tidah mempunyai semangan untuk menjalani hidup. Tetapi, ia sekarang telah menemukan kembali kekasih hatinya, yang memberikannya semangat untuk menulis sajak cinta. Kekasihnya sekarang yaitu bulan purnama yang mengingatkannya pada kekasih yang telah meninggalkannya.
D. Nilai Kepribadian
Di dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono, dengan tokoh utama Lelaki memiliki nilai kepribadian. Berikut ini gambaran nilai kepribadian dalam cerpen Lelaki Sepi
“lelaki kita ini memang keras hati ini. Ia tak ingin ditinggal lagi kekasihnya. Ia ingin yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu berlahan sembul dan ingin menjadi yang terkhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup”
Berdasarkan potongan cerpen Lelaki Sepi di atas mencerminkan seorang tokoh yang memiliki nilai kepribadian yang sangat ulet. Ia memiliki keyakinan dan pendirian yang sangat kuat dan ia teguh terhadap pendiriannya. Ia juga memiliki kepribadian yang sangat rajin dalam membuat sajak-sajak cinta. Buktinya sudah banyak karya yang sudah di ciptakannya terutama sajak cinta.
E. Nilai Religi
Di dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono memiliki nilai sosial yang dapat diambil. Berikut ini gambaran tentang nilai religi seorang tokoh Lelaki.
“Ia juga sering berdoa, “bila aku tak dapat tinggal di rahimnya, izinkan aku menjadi sebait puisi yang ia sukai, yang ia hafal, yang sering ia lantunkan,. Aku ingin tinggal di lidahnya menjadi sesuatu yang ia sebut.” Ia menyangka tidak ada cara lebig tepat menunjukkannya selain melalui puisi”.
Berdasarkan penggalan cerpen di atas, lelaki kita ini mempunyai nilai religi yang sangat tinggi. Buktinya dia rajin berdoa memohon kepada yang kuasa.
BAB IV
PENUTUP
1. Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.Tema atau pokok persoalan cerpen Lelaki Sepi, terletak pada seorang tokoh Lelaki dalam cerpen tersebut. Berikut gambaran tema Lelaki Sepi oleh seorang tokok Lelaki.
2. Amanat
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Kesetiaan seorang tokoh Lelaki dalam cerpen Lelaki Sepi.
b. Jangan Sombong
c. Jangan Putus Asa dan Manja
d. Jangan keras kepala
3. Latar
c. Latar Tempat
d. Latar Waktu
4. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang berjudul Lelaki Sepi karya Dadang Ari Murtono yaitu :
a. Nilai Psikologis
b. Nilai Kepribadian
c. Nilai Religi
Jumat, 04 Maret 2011
KUMPULAN PUISI
Pancaran Cahaya
Cahaya
Kau datang dari ufuk timur
Memberi penerangan dunia
Sorot cahayamu
Kau berjalan
Seiring berjalannya waktu
Sedikit demi sedikit
Hingga tepat di tengah-tengah dunia
Panas menyengat
Daun mulai kering
Tanah milai kering
Warnamu yang cerah nan indah
Menghiasi deliruh jagat raya
Waktu pun terus berjalan
Cahayamu tenggelam di ufuk barat
Cahaya itu pun mulai meredup
Pancaran sinar menghilang
Membuat dunia menjadi gelap
Rasa dingin
Rasa menggigil
Kini hinggap di tubuhku
Menanti cahayamu kembali
By: Arief Ayip Kurniawan
Penghianatan Cinta
Ketika cinta di hianati
Gatiku gundah
Hatiku suntuk
Ingin marah rasanya
Tak ada tempat pelampiasan
Aku ingin bebas
Aku ingin ketenangan
Melepas amarah
Melepas emosi
Kata-kata kotor terucap dari mulutku
Hatiku terasa tak berdaya menghadapinya
Tempat curahan hati tak ada
Bertukar pikiran pun tak bisa
Emosi memuncak
Kata-kata brengsek
Terucap keras dari mulutku
Ketika, ketika, ketika cinta pergi
Pergi meninggalkan aku
Pergi menghianatiku
Satu bungkus kotak warna putih
Enam belas batang LA putih menemaniku
Asap putih terhembus dari mulitku
Panas api menganga
Menemaniku dikala sedih terlentang
By: Arief Ayip Kurniawan
Cinta Ku Hilang
Ketika cinta datang
Datanglah kebahagiaan
Hati berbunga-bunga
Canda tawa selalu hadir menghampiriku
Kata-kata cinta dibalas cinta
Katika rindu saling bertemu
Telah lama kisah itu terjalin
Harapan demi harapan terpupuk di pundakku
Cita-cita dan masa depan menjadi impianku
Hari-hariku pun terus berlalu
Semakin besar rasa cinta dan kasihku
Dikala itu
Cinta itu pun membunuhku
Rasa sakit menusuk hatiku
Rasa cemburu menyelimutiku
Harapan. Masa depan dan cita-citaku sirna
Hatiku hancur lebur
Cintaku hilang
Cintaku pergi meninggalkan ku
Cinta cinta cinta
Sungguh kejam dirimu
Kau lukai aku
Cinta
Tolonglah aku
Kembalikan kebahagiaan ku
By: Arief Ayip Kurniawan
Penantian
Ketika hatiku hancur
Ketika hatiku rapuh
Ketika hatiku sedih
Dengan sisa-sisa klekuatanku
Aku bertahan
Menghibur
Menghapus luka dalam hati
Dengan harapan yang pernah terucap manis dari mu
Aku bersabar
Menunggu dan terus menunggu
Ketika cinta berkata
Aku akan kembali
Telah lama aku menunggu
Aku berharap
Kata-kata manis
Kata-kata cinta terucap dari bibir manismu
Tak lama
Kata itu pun terucap dari bibir manismu
Aku tunggu
Aku tunggu
Dan aku tunggu
Satu kata tang terucap dari bibir Mu
Satu kata yang menyakitkan hati Ku
By: Arief Ayip Kurniawan
Gelapnya Malam
Dunia adalah ciptaan tuhan
Dunia adalah tempat kita lahir
Hari-hari berganti
Ada siang dan malam
Ada tua dan muda
Langkahku melalui hari-hariku
Untuk melewati siang dan malam
Waktu demi waktu
Tak terasa makin lama hari pun makin larut
Matahari menghilang
Malam pun tiba
Tak lama malam semakin gelap
Tubuhku mulai terasa lelah
Berbaring aku menikmati indahnya malam
Terasa makin lama
Aku pun makin terlelap
By: Arief Ayip Kurniawan
Jalan Lurus
Ketika aku berjalan disuatu tempat
Terdengar suara yang sangat keras
Aku pun terus berjalan
Langkah demi langkah
Setapak demi setapak
Makin lama suara itu pin semakin jelas
Hatiku berdebar
Jantungju berdetak kencang
Suara yang nyaring nan merdu
Seolah-olah tubuh ini ingin berbalik
Tanpa ragu aku pun menoleh ke belakang
Mataku terpana dan aku terkejut
Terlihat kubah besar bertuliakan ALLAH
Aku pun sadar
Tapak langkahku
Menuntun dan meningkatkan aku
Bahwa waktu itu
Waktu yang mengajakku
Sembahyang
By: Arief Ayip Kurniawan
Cinta Suci
Cinta adalah satu kata yang sulit untuk diungkap
Cinta adalah sebuah anugrah
Cinta adalah perasaan
Cinta adalah hati
Kebahagiaan bermula dari cinta
Sedih berawal dari cinta
Cinta tulus akan berujung bahagia
Senan dan sedih
Cinta tulus pada ALLAH
Ingat pada ALLAH
Satu jalan menuju kebahagiaan
Bahagia yang kekal
Bahagia yang abadi
By: Arief Ayip Kurniawan
Kopi Manis KU
Satu sendok serbuk hitam
Tertuang dalam sebuah cangkir putih
Panas air mengguyur tubuhmu
Warna putih asapmu
Rasa hangat merasuk tubuhku
Rasa pahit
Rasa manis
Terjampur jadi satu
Aroma wangi nan harum
Tak kuasa aku menahannya
Aku kecup bibir lembutmu
Aku jilat dan aku rasakan
Sungguh nikmat
Nikmay yang tiada tara
By: Arief Ayip Kurniawan
Keindahan Malam
Malam semakin larut
Udara semakin dingin
Makin lama makin sepi
Bulan dan bintang bersinar terang
Kunang-kunang beterbangan
Larutnya malam
Lantunan lagu
Membuat mata ku terpajam
Hingga aku pun terlelap
Buah tidur menghampiri
Menghiasi indahnya malam
Seiring hilangnya kegelapan
Menanti dunia bersinar
By: Arief Ayip Kurniawan
????????????
Pintu terbuka
Dalam sebiah riang kecil
Terlihat bolam putih
Kaca jendela menganga
Almari berukirkan daun dan binga
Dinginnya angin yang berhembis
Kain beterbangan
Buku berserakan
Rasa dingin aku rasakan
Kain-kain bergelantungan
Lantai putihmu berubah hitam keputihan
Warna hijau dan putih
Sinar cahaya menerangi seliruh penjuru ruang
Harum mewangi
Warna putihmu dihiasi lukisan
Tak ada satu pun yang pergi
Mereka selalu setia menemaniku
By: Arief Ayip Kurniawan
??????????????????
Ketika sepi
Ketika sedih
Ketika susah
Kau selalu ada
Memberi kenyamanan
Memberi kehangatan
Dikala dingin melelapkanku
Membawa aku ke alam mimpi
Membiarkan aku memelukmu
Membiarkan aku berbaring di dekatmu
Kau selalu ada untuk ku
Ketika aku membutuhkanmu
By: Arief Ayip Kurniawan
Cahaya
Kau datang dari ufuk timur
Memberi penerangan dunia
Sorot cahayamu
Kau berjalan
Seiring berjalannya waktu
Sedikit demi sedikit
Hingga tepat di tengah-tengah dunia
Panas menyengat
Daun mulai kering
Tanah milai kering
Warnamu yang cerah nan indah
Menghiasi deliruh jagat raya
Waktu pun terus berjalan
Cahayamu tenggelam di ufuk barat
Cahaya itu pun mulai meredup
Pancaran sinar menghilang
Membuat dunia menjadi gelap
Rasa dingin
Rasa menggigil
Kini hinggap di tubuhku
Menanti cahayamu kembali
By: Arief Ayip Kurniawan
Penghianatan Cinta
Ketika cinta di hianati
Gatiku gundah
Hatiku suntuk
Ingin marah rasanya
Tak ada tempat pelampiasan
Aku ingin bebas
Aku ingin ketenangan
Melepas amarah
Melepas emosi
Kata-kata kotor terucap dari mulutku
Hatiku terasa tak berdaya menghadapinya
Tempat curahan hati tak ada
Bertukar pikiran pun tak bisa
Emosi memuncak
Kata-kata brengsek
Terucap keras dari mulutku
Ketika, ketika, ketika cinta pergi
Pergi meninggalkan aku
Pergi menghianatiku
Satu bungkus kotak warna putih
Enam belas batang LA putih menemaniku
Asap putih terhembus dari mulitku
Panas api menganga
Menemaniku dikala sedih terlentang
By: Arief Ayip Kurniawan
Cinta Ku Hilang
Ketika cinta datang
Datanglah kebahagiaan
Hati berbunga-bunga
Canda tawa selalu hadir menghampiriku
Kata-kata cinta dibalas cinta
Katika rindu saling bertemu
Telah lama kisah itu terjalin
Harapan demi harapan terpupuk di pundakku
Cita-cita dan masa depan menjadi impianku
Hari-hariku pun terus berlalu
Semakin besar rasa cinta dan kasihku
Dikala itu
Cinta itu pun membunuhku
Rasa sakit menusuk hatiku
Rasa cemburu menyelimutiku
Harapan. Masa depan dan cita-citaku sirna
Hatiku hancur lebur
Cintaku hilang
Cintaku pergi meninggalkan ku
Cinta cinta cinta
Sungguh kejam dirimu
Kau lukai aku
Cinta
Tolonglah aku
Kembalikan kebahagiaan ku
By: Arief Ayip Kurniawan
Penantian
Ketika hatiku hancur
Ketika hatiku rapuh
Ketika hatiku sedih
Dengan sisa-sisa klekuatanku
Aku bertahan
Menghibur
Menghapus luka dalam hati
Dengan harapan yang pernah terucap manis dari mu
Aku bersabar
Menunggu dan terus menunggu
Ketika cinta berkata
Aku akan kembali
Telah lama aku menunggu
Aku berharap
Kata-kata manis
Kata-kata cinta terucap dari bibir manismu
Tak lama
Kata itu pun terucap dari bibir manismu
Aku tunggu
Aku tunggu
Dan aku tunggu
Satu kata tang terucap dari bibir Mu
Satu kata yang menyakitkan hati Ku
By: Arief Ayip Kurniawan
Gelapnya Malam
Dunia adalah ciptaan tuhan
Dunia adalah tempat kita lahir
Hari-hari berganti
Ada siang dan malam
Ada tua dan muda
Langkahku melalui hari-hariku
Untuk melewati siang dan malam
Waktu demi waktu
Tak terasa makin lama hari pun makin larut
Matahari menghilang
Malam pun tiba
Tak lama malam semakin gelap
Tubuhku mulai terasa lelah
Berbaring aku menikmati indahnya malam
Terasa makin lama
Aku pun makin terlelap
By: Arief Ayip Kurniawan
Jalan Lurus
Ketika aku berjalan disuatu tempat
Terdengar suara yang sangat keras
Aku pun terus berjalan
Langkah demi langkah
Setapak demi setapak
Makin lama suara itu pin semakin jelas
Hatiku berdebar
Jantungju berdetak kencang
Suara yang nyaring nan merdu
Seolah-olah tubuh ini ingin berbalik
Tanpa ragu aku pun menoleh ke belakang
Mataku terpana dan aku terkejut
Terlihat kubah besar bertuliakan ALLAH
Aku pun sadar
Tapak langkahku
Menuntun dan meningkatkan aku
Bahwa waktu itu
Waktu yang mengajakku
Sembahyang
By: Arief Ayip Kurniawan
Cinta Suci
Cinta adalah satu kata yang sulit untuk diungkap
Cinta adalah sebuah anugrah
Cinta adalah perasaan
Cinta adalah hati
Kebahagiaan bermula dari cinta
Sedih berawal dari cinta
Cinta tulus akan berujung bahagia
Senan dan sedih
Cinta tulus pada ALLAH
Ingat pada ALLAH
Satu jalan menuju kebahagiaan
Bahagia yang kekal
Bahagia yang abadi
By: Arief Ayip Kurniawan
Kopi Manis KU
Satu sendok serbuk hitam
Tertuang dalam sebuah cangkir putih
Panas air mengguyur tubuhmu
Warna putih asapmu
Rasa hangat merasuk tubuhku
Rasa pahit
Rasa manis
Terjampur jadi satu
Aroma wangi nan harum
Tak kuasa aku menahannya
Aku kecup bibir lembutmu
Aku jilat dan aku rasakan
Sungguh nikmat
Nikmay yang tiada tara
By: Arief Ayip Kurniawan
Keindahan Malam
Malam semakin larut
Udara semakin dingin
Makin lama makin sepi
Bulan dan bintang bersinar terang
Kunang-kunang beterbangan
Larutnya malam
Lantunan lagu
Membuat mata ku terpajam
Hingga aku pun terlelap
Buah tidur menghampiri
Menghiasi indahnya malam
Seiring hilangnya kegelapan
Menanti dunia bersinar
By: Arief Ayip Kurniawan
????????????
Pintu terbuka
Dalam sebiah riang kecil
Terlihat bolam putih
Kaca jendela menganga
Almari berukirkan daun dan binga
Dinginnya angin yang berhembis
Kain beterbangan
Buku berserakan
Rasa dingin aku rasakan
Kain-kain bergelantungan
Lantai putihmu berubah hitam keputihan
Warna hijau dan putih
Sinar cahaya menerangi seliruh penjuru ruang
Harum mewangi
Warna putihmu dihiasi lukisan
Tak ada satu pun yang pergi
Mereka selalu setia menemaniku
By: Arief Ayip Kurniawan
??????????????????
Ketika sepi
Ketika sedih
Ketika susah
Kau selalu ada
Memberi kenyamanan
Memberi kehangatan
Dikala dingin melelapkanku
Membawa aku ke alam mimpi
Membiarkan aku memelukmu
Membiarkan aku berbaring di dekatmu
Kau selalu ada untuk ku
Ketika aku membutuhkanmu
By: Arief Ayip Kurniawan
Langganan:
Postingan (Atom)